Madrasah Hebat Bermartabat

Tampilkan postingan dengan label TOKOH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TOKOH. Tampilkan semua postingan

Pangeran Diponegoro

Di ruangan kantor Residen Magelang pada tanggal 28 Marat 1830 berlangsung perundingan antara Jenderal De Kock, panglima tentara Belanda, dengan Pangeran Diponegoro dari Yogyakarta. Selama lima tahun memberontak, sang Pangeran telah membikin Belanda amat repot sekali. Sebelum perundingan dimulai sudah disepakati, bahwa apabila perundingan gagal, Pangeran Diponegoro akan kembali ke tempatnya tanpa halangan apa pun dari pihak Belanda. Ada dua hal pokok yang diajukan Pangeran Diponegoro, yakni: Pertama, ia akan mendirikan negara merdeka dibawah perintah seorang sultan; kedua, ia akan menjadi pemimpin agama seluruh Jawa.
De Kock menolak kedua usul itu dan melarang Pangeran Diponegoro kembali ke tempatnya. Pangeran itu bangkit dari kursinya. Sambil memegang hulu kerisnya, ia berkata dengan geram.’Tuan telah menipu orang yang diajak berunding!” Sebenarnya ia dapat saja menikam de Kock yang tidak bersejata, tetapi jiwa ksatrianya melarangnya melakukan perbuatan itu. Pada saat itu pula de Kock memerintahkan anak buahnya menangkap Pangeran Diponegoro.
Pengkhianatan yang dilakukan De Kock dalam perundingan di Magelang itu mengakhiri perlawanan bersenjata terhadap pemerintah Belanda yang berkobar di Jawa Tengah selama lima tahun.
Pemimpin perlawanan itu, Pangeran Diponegoro, semasa kecilnya bernama Raden Mas Ontowiryo, putera dari Sultan Hamengku Buwono III dari ibu yang bukan permaisuri. Diponegoro lahir tanggal 11 November 1785. Sejak kecil ia diasuh oleh neneknya, yaitu Ratu Ageng, permaisuri Hamengku Buwono I, pendiri kerajaan Yogyakarta. Neneknya itu kemudian menetap di Tegalrejo, sebelah barat Yogyakarta. Berkat asuhan wanita bijaksana ini, Diponegoro tumbuh menjadi seorang yang alim, sederhana dan dekat dengan rakyat.
Sementara Diponegoro tumbuh dewasa, di keraton Yogyakarta terjadi kericuhan-kericuhan yang disebabkan oleh semakin besarnya campur tangan pemerintah Belanda dalam masalah-masalah kerajaan. Pengangkatan dan pemberhentian raja atau patih ditentukan oleh Belanda. Demikian Hamengku Buwono II yang bersikap anti Belanda, diturunkan dari tahtanya, tetapi ia masih diizinkan tinggal dalam keraton. Akibatnya di keraton terdapat dua golongan, yang pro dan yang anti Belanda. Sebagai penggantinya diangkat Hamengku Buwono III, ayah Diponegoro.
Dalam masa kekuasaan Inggris Hamengku Buwono II berkuasa kembali, tetapi karena sikapnya yang menentang Inggris menyebabkan ia dibuang ke-Penang. Oleh pemerintah Belanda tempat pembuangannya kemudian dipindahkan ke Ambon.
Dalam tahun 1812 Hamengku Buwono III kembali naik tahta. Dua tahun kemudian ia meninggal dan digantikan oleh Sultan Jarot, puteranya yang masih berumur 10 tahun. Ia adalah adik Diponegoro dari ibu permaisuri. Ketika Jarot meninggal dunia dalam tahun 1822, ia diganti oleh puteranya R.M. Menol, yang masih bayi. Untuk menjalankan pemerintahan dibentuk Dewan Perwakilan. Diponegoro duduk sebagai anggota dewan, tetapi ia tidak pernah diajak berbicara mengenai urusan pemerintahan, karena itu ia mengundurkan diri dari keanggotaan Dewan Perwakilan. Sejak saat itu urusan pemerintahan lebih banyak dikendalikan oleh Patih Danurejo IV yang sangat pro Belanda.
Bersamaan dengan semakin membesarnya pengaruh Belanda dalam masalah-masalah kerajaan, penindasan terhadap rakyat pun semakin meningkat pula. Pemerintah Belanda menyewakan tanah dalam jumlah yang tidak terbatas kepada pengusaha-pengusaha swasta Belanda untuk dijadikan perkebunan-perkebunan. Akibatnya tanah yang dapat digarap rakyat untuk pertanian bertambah sempit. Bahkan jalan-jalan pun disewakan. Setiap orang yang melewati jalan itu diharuskan membayar pajak (tol).
Tindakan-tindakan pemerintah Belanda itu menimbulkan sikap antipati Pangeran Diponegoro. Sebaliknya Belanda pun menganggap Diponegoro se­bagai lawan yang menghalang-halangi rencana mereka. Karena itulah dicari berbagai cara untuk melenyapkannya, atau untuk memburuk-burukkan nama-nya. Pada waktu Sultan Jarot meninggal dunia, Belanda menuduh, bahwa ia diracun oleh Diponegoro. Residen Yogyakarta Smissaert, merencanakan pula untuk menangkap pangeran ini dengan cara mengundangnya menghadiri pesta yang diadakan di benteng Vredeburg. Diponegoro datang dengan pengawalnya, dan menantang Smissaert untuk berkelahi. Tetapi Residen ini tidak berani menjawab tantangan tersebut.
Pertentangan terbuka akhirnya terjadi juga. Residen Smissaert meren­canakan untuk membuat jalan yang melewati tanah milik Diponegoro. Pancang-pancang sudah ditanam, sedangkan pemilik tanah tidak diberi tahu. Diponegoro menyuruh para pembantunya mencabuti pancang-pancang. Patih Danurejo IV, antek Belanda memerintahkan pancang-pancang ditanam kembali. Peristiwa menanam dan mencabut pancang terjadi beberapa kali.
Sementara itu tersiar desas-desus bahwa Belanda akan menyerang Tegalrejo. Penduduk Tegalrejo yang memang bersimpati terhadap Diponegoro mulai bersiap-siap menghadapi kemungkinan serangan itu.
Tanggal 20 Juni 1825 seorang utusan Belanda mengantarkan surat ke Tegalrejo untuk menanyakan maksud Diponegoro. Pada waktu itu Pangeran Mangkubumi, paman Diponegoro, dan Dewan Perwakilan Kerajaan Yogyakarta sedang ada di Tegalrejo. Diponegoro meminta Mangkubumi menyusun kalimat untuk membalas surat tersebut dan Diponegoro menuliskannya. Baru beberapa baris ia menulis, dari jauh sudah terdengar bunyi senapan dan meriam. Pasukan Belanda sudah menyerang Tegalrejo. Penduduk Tegalrejo memberikan perlawanan, tetapi karena persenjataannya tidak seimbang, mereka terpaksa mengundurkan diri. Hari itu juga Tegalrejo diduduki Belanda. Tempat tinggal Diponegoro, mesjid dan bangunan-bangunan lainnya mereka bakar.
Diponegoro memerintahkan rakyat untuk menyingkir ke Selarong. Ia bersama Pangeran Mangkubumi menuju Kali Saka. Di luar Tegalrejo ia menyaksikan tempat itu sedang terbakar. Sambil menghunus keris ia berkata kepada Pangeran Mangkubumi,”Lihatlah paman, rumah dan masjid sudah terbakar. Saya tidak mempunyai apa-apa lagi di dunia ini”. Setelah tiga hari di Kali Saka, Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi pergi ke Selarong. Di tempat ini sudah berkumpul 23 orang pangeran dan 53 orang bangsawan Yogya. Begitu pula keluarga Diponegoro. Rakyat pun sudah berkumpul di Selarong. Semuanya sudah siap untuk membantu Diponegoro melancarkan perang terhadap Belanda.
Pimpinan perang segera disusun. Diponegoro diangkat sebagai pimpinan tertinggi. Mangkubumi diangkat sebagai penasehat, sedangkan Pangeran Angabei sebagai penasehat khusus bidang siasat perang. Pimpinan ini kemudian dilengkapi dengan munculnya Sentot Prawirodirjo yang berusia 16 tahun dan Kyai Mojo yang memberikan corak Islam kepada perjuangan. Rakyat dilatih menggunakan berbagai jenis senjata, tombak, pedang, parang, panah, bandil (umban pelempar batu) dan sebagainya. Pasukan dibagi atas tujuh kelompok. Tiap-tiap kelompok terdiri atas 150 orang prajurit pilihan dan dipimpin oleh seorang pangeran.
Maklumat perang disebar ke berbagai tempat, diantar oleh para kurir. Mula-mula di daerah Jawa Tengah, tetapi kemudian juga ke Jawa Barat (Banten) dan Jawa Timur seperti Palembang, Tuban, Bojonegoro, Madiun dan Pacitan. Seruan perang itu mendapat sambutan spontan dari rakyat yang memang sudah lama merasa tertindas akibat penjajahan Belanda.
Untuk menghadapi perlawanan Diponegoro, pasukan Belanda didatangkan dari Jakarta melalui Semarang. Bahkan kemudian sebagian pasukan Belan­da yang sedang menghadapi Perang Paderi di Sumatera Barat ditarik ke Jawa Tengah. Sepasukan tentara Belanda di bawah pimpinan Kumsius berangkat dari Semarang membawa empat pucuk meriam, uang dan pakaian serta perbekalan lainnya. Di dekat Pisang, Tempel, sebelah barat laut Yogyakarta pasukan ini disergap oleh pasukan Diponegoro di bawah pimpinan Mulyosentiko. Sebanyak 27 orang tentara Belanda terbunuh. Senjata, pakaian seragam dan uang sebanyak 50.000 gulden jatuh ke tangan pasukan Diponegoro.
Sergapan yang berhasil itu menimbulkan suasana panik di keraton Yogya. Sultan Menol yang masih bayi diungsikan ke dalam benteng Belanda. Orang-orang Belanda banyak pula yang mengungsi ke sana sehingga benteng itu penuh sesak. Sementara itu pasukan Diponegoro mengepung kota dari berbagai penjuru. Bahan makanan diblokir, tidak boleh masuk ke dalam kota.
Kolonel Van Jett segera mengirim pasukannya untuk menyerang Selarong. Tiga kali serangan dilancarkan, namun pasukan Belanda selalu menemui Selarong dalam keadaan kosong, sebab rakyat sudah mengetahui bahwa Belanda akan menyerang. Diponegoro pun tidak ada disana, sebab ia berada di gua Secang yang indah, tak jauh dari Selarong.
Tiga bulan kemudian Diponegoro memindahkan markas besarnya ke Dekso agar lebih mudah berhubungan dengan sektor-sektor lain. Di tempat ini ia dinobatkan sebagai sultan dengan gelar Sultan Ngabdulkamid Herucokro Amirul Mukminin Panatogomo Jowo.
Dalam bulan-bulan pertama pasukan Belanda terpukul mundur di berbagai medan tempur. Karena itu Belanda mencoba taktik lain. Hamengku Buwono dikembalikan dari pembuangannya di Ambon dan diangkat menjadi Sultan. Maksudnya ialah agar sultan ini membujuk cucunya, Diponegoro, supaya mau menyerah. Tetapi usaha ini gagal sama sekali.
Atas usul Kyai Mojo pasukan Diponegoro menyerang Surakarta. Bulan Oktober 1826 terjadi pertempuran di Gawok, kurang lebih 12 kilometer dari Sala. Belanda mendatangkan bantuan dari Semarang di bawah pimpinan Co-chius. Dalam pertempuran ini Diponegoro mengalami luka-luka di tumit, tangan kanan, dan dada sebelah kiri. la dibawa ke lereng gunung Merapi untuk dirawat.
Selama tahun 1825 dan 1826 pasukan Diponegoro banyak memperoleh kemenangan. Dua kali pasukan Belanda menyerang Plered, namun pasukan Diponegoro di bawah pimpinan Kerto Pengalasan, tak dapat mereka hancurkan. Dalam bulan Agustus 1826 dengan taktik gerilya pasukan Sentot berhasil menyergap pasukan Belanda yang sedang dalam perjalanan kembali ke Yogya setelah melakukan operasi. Semua serdadu Belanda tewas, kecuali komandannya Van Geen yang berhasil menyelamatkan diri. Dalam pertempuran di Lengkong, pasukan Diponegoro berhasil mengungguli pasukan lawannya, dan menewaskan seorang letnan serta Pangeran Murdaningrat dan Pangeran Panular. Kedua pangeran itu adalah pengganti Diponegoro dan Mangkubumi dalam Dewan Perwakilan. Kemenangan-kemenangan lain di peroleh pula dalam per­tempuran di Tangkilan, Bantul dan.Kejiwan. Pasukan yang lain bergerak untuk menduduki Magelang. Mereka sudah tiba di kaki gunung Tidar. Kota Magelang dikelilingi dengan api. Namun usaha merebut kota ini mengalami kegagalan. Pasukan kemudian digerakkan ke Menoreh. Dalam pertempuran di Sadegan beberapa orang perwira Belanda dan seorang bupati mati terbunuh.
Pacitan dan Purwodadi sudah dikuasai pasukan Diponegoro. Pangeran Serang yang memimpin perlawanan di daerah ini diburu-buru oleh Belanda, tetapi ia berhasil meloloskan diri dan kemudian bergabung ke Madiun. Barulah dalam pertempuran sengit tanggal 21 Juni 1827 Pangeran Serang bersama Pangeran Notoprojo bersama 850 orang pengikutnya terpaksa menyerah kepada Belanda.
Sementara itu di sektor timur pasukan Diponegoro menyerang Rembang, Padangan, Ngawi dan Tuban. Serangan dilancarkan dari markas besar di Rajegwesi
Dalam tahun 1827 itu kekuatan pasukan Belanda dilipatgandakan. Tekanan-tekanan terhadap pasukan Diponegoro semakin diintensifkan. Untuk memperkecil ruang gerak Diponegoro, Belanda melakukan sistem benteng. Di tempat-tempat yang berhasil mereka rebut, Belanda mendirikan benteng untuk bertahan dan sebagai basis untuk melancarkan serangan selanjutnya. Sistem seperti itu disebut ”benteng stelsel”. Dengan cara demikian berperanlah benteng-benteng Belanda di sekitar Magelang, Borobudur dan Kali-joigking. Di sektor timur terdapat benteng di Tuban, Blora dan Pamotan dan tcmpat-tempat lain. Antara Banyumas dan Madiun, Belanda mendirikan 165 benteng. Walaupun demikian, sampai triwulan pertama tahun 1828 Belanda masih belum berhasil mematahkan perlawanan Diponegoro.
Bersamaan dengan taktik perbentengan dilakukan pula usaha-usaha untuk berunding baik dengan Diponegoro sendiri maupun dengan para pembantunya secara terpisah-pisah. Perundingan pertama diadakan di Sambiroto. Diponegoro diwakili oleh Kyai Mojo. Dalam perundingan berikutnya, 25 November 1828 di Malang, Kyai Mojo bertindak atas namanya sendiri. la berhadapan dengan Kolonel Wironagoro yang mewakili Belanda. Perundingan ini gagal. Waktu Kyai Mojo kembali bersama 600 prajurit ”Bulkiyo” ke markas Pengasih, ia diikuti oleh mata-mata Belanda. Beberapa hari kemudian ia ditangkap dan kemudian diasingkan ke Manado hingga wafatnya pada tanggal 21 Desember 1849, dan dimakamkan di Tonsea.
Perundingan dengan Sentot mula-mula gagal pula dan Sentot kembali ke medan perang. Dalam pertempuran di Naggulan ia berhasil menewaskan Kapten Van Ingen dan Pangeran Prangwadono. Belanda menggunakan Bupati Madiun, Prawirodiningrat yang masih kerabat Sentot untuk membujuk agar ia mau menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 24 Oktober 1829 Sentot menyerah dengan syarat, ia tetap diizinkan memeluk agama Islam dan siap memimpin pasukannya. Pemerintah Belanda mengirimnya ke Sumatera Barat untuk bertempur melawan pasukan Paderi. Pada mulanya Sentot memang dimenangi kaum Paderi pimpinan Tuanku Imam Bonjol, tetapi kemudian ia berbalik membantu, karena itu ia ditangkap Belanda dan dibuang ke Cianjur Jawa Barat, kemudian ke Bengkulu hingga wafatnya pada tahun 1855 dan dimakamkan di sana.
Setelah Kyai Mojo ditangkap dan Sentot menyerah, musibah datang susul-menyusul. Dalam pertempuran di Geger, Prawirokusumo yang tangguh dan berani menderita luka berat. Isteri Pangeran Mangkubumi dan tiga orang anaknya menyerah, disusul oleh Tumenggung Wonodirjo dan pengikutnya menyerah di Karangwuni. Sesudah itu Pangeran Angabei, ahli siasat, gugur dalam pertempuran, sedangkan Pengeran Mangkubumi dan Pangeran Nataningrat meletakkan senjata.
Semua itu merupakan pukulan yang berat bagi Diponegoro. Para pernbantu terdekat sudah meninggalkannya. Tetapi ia tidak tenggelam dalam kesedihan. Sebaliknya ia semakin giat mengatur pasukan yang masih tersisa. Ia berkeliling ke berbagai daerah menempuh jalan-jalan yang sulit, ladang dan hutan belukar. Waktu ia meninggalkan Menoreh menuju ke selatan, tiba-tiba di dekat sebuah jurang yang curam ia dikepung musuh. Dalam keadaan terdesak ia terjun ke dalam jurang dengan dua ekor kudanya. Tembakan senapan dan pistol menyusul bertubi-tubi. Tapi Tuhan masih menyelamatkan nyawa Diponegoro, walaupun kedua ekor kudanya hilang. Sesudah itu ia meneruskan pengembaraan perangnya diiringi oleh Roto dan Bantengwareng, dua orang abdi yang setia sampai ke tempat pembuangannya kelak.
Walaupun ruang gerak sudah semakin sempit dan kekuatannya sudah jauh berkurang, namun Diponegoro tetap tidak mau menyerah. Usaha Belanda untuk menangkapnya tidak pula berhasil. Belanda mengumumkan, siapa saja yang berhasil menangkap Diponegoro hidup atau mati akan diberi hadiah uang sebanyak 50.000 gulden ditambah dengan tanah dan kedudukan. Hadiah yang cukup besar-itu tidak membuat rakyat tergiur. Mereka tidak mau mengkhianati pemimpin yang mereka cintai itu.
Belanda melakukan usaha-usaha untuk membuka perundingan kembali. Bagi Belanda perang yang berlama-lama itu terasa berat, terutama dari segi biaya. Barulah pada tanggal 16 Februari 1830 Diponegoro bersedia menerima utusan Belanda, yakni Kolonel Cleerens. Perundingan diadakan di Romo Ken­dal, daerah Bagelen. Cleerens mendesak agar Diponegoro menyatakan keinginan baik secara lisan maupun tertulis untuk disampaikan kepada Jenderal de Kock. Diponegoro menolak. Waktu itu menjelang bulan puasa. Diponegoro tidak bersedia berunding di bulan suci. Ia hanya menyetujui usul Cleerens untuk mendekati Magelang, agar sesudah bulan puasa perundingan dapat di­adakan. Dengan diikuti pengiringnya, Diponegoro pindah ke Menoreh, kemudian ke kampung Matesih, dekat Magelang.
Sesuai dengan janjinya kepada Cleerens, maka pada tanggal 28 Maret 1830 Diponegoro menemui Jenderal De Kock di kantor Residen Magelang. Sepanjang jalan rakyat berkerumun memberikan penghormatan kepadanya. Belanda melarang rakyat membawa senjata, tetapi Belanda sendiri sudah menempatkan pasukannya untuk melakukan penjagaan ketat di sekeliling kota.
Dalam perundingan dengan Jenderal De Kock ini Diponegoro di dampingi oleh Basah Martonagoro, Kyai Badaruddin, dan puteranya, Diponegoro Anom. Seperti sudah diuraikan pada awal tulisan ini, De Kock melakukan tindakan khianat. Diponegoro ditangkap. la dibawa ke utara Magelang dengan joli dan kemudian dipindahkan ke kereta dengan pengawasan kuat. Diponegoro meminta agar ia dapat bertemu dengan Gubernur Jenderal, tetapi permintaan itu di tolak.
Dari Magelang Diponegoro dibawa ke Semarang, sesudah itu ke Jakarta. Selanjutnya ia menjadi tawanan pemerintah Belanda. Pada tanggal 3 Mei 1830 dengan kapal Pollux Diponegoro dibawa ke tempat pembuangannya di Manado. Mula-mula ia ditempatkan di rumah Residen dalam benteng Manado. Dalam tahun 1834 ia dipindahkan ke benteng Rotterdam di Ujung Pandang.
Selama 25 tahun Pangeran Diponegoro dikurung sebagai orang buangan. Ia menghabiskan waktunya dengan menulis kisah perjuangannya berupa ”Babad Diponegoro” dalam bahasa Jawa setebal kurang lebih 700 halaman.
Perlawanan yang dipimpin Pangeran Diponegoro dikenal dengan nama Perang Diponegoro” atau ”Perang Jawa” dari tahun 1825-1830. Untuk Memadamkan perang ini Belanda telah mengeluarkan uang sebanyak 20 Juta rolden. Korban yang jatuh di pihak Belanda tercatat 8.000 orang serdadu Eropa dan 7.000 orang serdadu bumiputera. Kerugian itu harus ditambah lagi dengan banyaknya perkebunan yang rusak. Di pihak rakyat ribuan yang menjadi korban. Sebagai imbalan untuk memadamkan perlawanan ini, kerajaan Yogyakarta terpaksa menyerahkan beberapa daerah kepada Belanda.
Diponegoro meninggal dunia tanggal 8 Januari 1855. Jenazahnya dimakamkan di kampung Melayu, Ujung Pandang. Ia mengakhiri perjuangannya tidak dengan menyerah, tetapi ditipu oleh musuhnya.
Pemerintah Republik Indonesia menghargai jasa-jasa yang telah diberikan Dtponegoro bagi bangsa dan tanah airnya. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 087/TK/Tahun 1973 tanggal 7 November 1973 Diponegoro dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Share:

KH. Abdul Wahab Hasbullah


Latar Belakang Dan Nasab
KH. Abdul Wahab Hasbullah lahir di Jombang, 31 Maret 1888. Ayah beliau adalah Kiai Hasbullah Said, pengasuh Pesantren Tambakberas Jombang Jawa Timur, sedangkan Ibundanya bernama Nyai Latifah. Kiai Hasbullah adalah putra dari Nyai Fatimah binti Abdus Salam (Kiai Sihah) yang tak lain adalah saudara kandung Nyai Layyinah binti Abdus Salam, ibu dari Nyai Halimah (ibunda Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari).
Pendidikan
Masa pendidikan KH. Abdul Wahab dari kecil hingga besar banyak dihabiskan di pondok pesantren. Selama kurang lebih 20 tahun, beliau secara intensif menggali pengetahuan keagamaan dari beberapa pesantren. Karena tumbuh di lingkungan pondok pesantren, mulai sejak dini beliau diajarkan ilmu agama dan moral pada tingkat dasar. Termasuk dalam hal ini tentu diajarkan seni Islam seperti kaligrafi, hadrah, barzanji, diba’, dan sholawat. Kemudian tak lupa diajarkan tradisi yang menghormati leluhur dan keilmuan para leluhur, yaitu dengan berziarah ke makam-makam leluhur dan melakukan tawasul.
Beliau dididik ayahnya sendiri cara hidup seorang santri. Diajaknya shalat berjamaah, dan sesekali dibangunkan malam hari untuk shalat tahajjud. Kemudian Kiai Hasbullah membimbingnya untuk menghafalkan Juz ‘Amma dan membaca Al-Qur’an dengan tartil dan fasih. Lalu beliau dididik mengenal kitab-kitab kuning, dari kitab yang paling kecil dan isinya diperlukan untuk amaliyah sehari-hari. Misalnya: Kitab Safinatunnaja, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Fathul Wahab, Muhadzdzab dan Al Majmu’. Abdul Wahab Hasbullah juga belajar Ilmu Tauhid, Tafsir, Ulumul Quran, Hadits, dan Ulumul Hadits.
Kemauan yang keras untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya tampak semenjak masa kecilnya yang tekun dan cerdas memahami berbagai ilmu yang dipelajarinya. Selama enam tahun awal pendidikannya, beliau dididik langsung oleh ayahnya, baru ketika berusia 13 tahun, KH. Abdul Wahab merantau untuk menuntut ilmu. Maka beliau pergi ke satu pesantren ke pesantren lainnya.
Di antara pesantren yang pernah disinggahi KH. Ahmad Wahab Hasbullah adalah sebagai berikut:
1. Pesantren Langitan Tuban.
 2. Pesantren Mojosari, Nganjuk.
3. Pesantren Cempaka.
4. Pesantren Tawangsari, Sepanjang.
5. Pesantren Kademangan Bangkalan, Madura dibawah asuhan Kiai Kholil Bangkalan.
6. Pesantren Branggahan, Kediri.
7. Pesantren Tebuireng, Jombang dibawah asuhan Hadratus Syaikh K.H. Hasyim Asy‘ari.

Khusus di Pesantren Tebuireng, beliau cukup lama menjadi santri. Hal ini terbukti, kurang lebih selama 4 tahun, beliau menjadi “lurah pondok”, sebuah jabatan tertinggi yang dapat dicicipi seorang santri dalam sebuah pesantren, sebagai bukti kepercayaan kiai dan pesantren tersebut.
Setelah merasa cukup bekal dari para ulama di Jawa dan Madura, beliau ke Makkah untuk belajar pada ulama terkemuka dari dunia Islam, termasuk para ulama Jawa yang ada di sana seperti Syaikh Mahfudz Termas dan Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Selain belajar agama saat di Makkah itu, beliau juga mempelajari perkembangan politik nasional dan internasional bersama aktivis dari seluruh dunia.
Peranan Dalam Bidang Sosial Dan Kebangsaan
KH. Abdul Wahab Hasbullah adalah pelopor kebebasan berpikir di kalangan ummat Islam Indonesia, khususnya di lingkungan Nahdhiyyin. Beliau merupakan seorang ulama besar Indonesia yang menekankan pentingnya kebebasan dalam keberagamaan terutama kebebasan berpikir dan berpendapat. Untuk itu KH. Abdul Wahab membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya pada tahun 1914 M.
Mula-mula kelompok ini mengadakan kegiatan dengan peserta yang terbatas. Tetapi berkat prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat yang diterapkan dan topik-topik yang dibicarakan mempunyai jangkauan kemasyarakatan yang luas, dalam waktu singkat kelompok ini menjadi sangat populer dan menarik perhatian di kalangan pemuda. Banyak tokoh Islam dari berbagai kalangan bertemu dalam forum itu untuk memperdebatkan dan memecahkan permasalahan pelik yang dianggap penting.
Tashwirul Afkar tidak hanya menghimpun kaum ulama pesantren. Ia juga menjadi ajang komunikasi dan forum saling tukar informasi antar tokoh nasional sekaligus jembatan bagi komunikasi antara generasi muda dan generasi tua. Karena sifat rekrutmennya yang lebih mementingkan progresivitas berpikir dan bertindak, maka jelas pula kelompok diskusi ini juga menjadi forum pengkaderan bagi kaum muda yang gandrung pada pemikiran keilmuan dan dunia politik.
Kebebasan berpikir dan berpendapat yang dipelopori KH. Abdul Wahab Hasbullah dengan membentuk Tashwirul Afkar merupakan warisan terpenting beliau kepada kaum muslimin Indonesia. Beliau telah mencontohkan kepada generasi penerusnya bahwa prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat dapat dijalankan dalam nuansa keberagamaan yang kental. Prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat tidak akan mengurangi ruh spiritualisme umat beragama dan kadar keimanan seorang muslim. Dengan prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat, kaum muslim justru akan mampu memecahkan problem sosial kemasyarakatan dengan analisis keislaman.
Bersamaan dengan itu, dari rumahnya di Kertopaten, Surabaya, KH. Abdul Wahab bersama KH. Mas Mansyur menghimpun sejumlah ulama dalam organisasi Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) yang mendapatkan kedudukan badan hukumnya pada 1916 M. Dari organisasi inilah KH. Abdul Wahab mendapat kepercayaan dan dukungan penuh dari ulama pesantren yang kurang-lebih sealiran dengannya. Di antara ulama yang berhimpun itu adalah KH. Bisri Syansuri (Denanyar Jombang), KH. Abdul Halim, (Leimunding Cirebon), KH. Alwi Abdul Aziz, KH. Ma’shum (Lasem) dan KH. Cholil (Kasingan Rembang).
Untuk memperkuat gerakannya itu, tahun 1918 M. KH. Abdul Wahab mendirikan Nahdlatut Tujjar (kebangkitan saudagar) sebagai pusat penggalangan dana bagi perjuangan pengembangan Islam dan kemerdekaan Indonesia. KH. Hasyim Asy’ari memimpin organisiasi ini. Sementara KH. Abdul Wahab menjadi sekretaris dan bendaharanya. Salah seorang anggotanya adalah KH. Bisri Syansuri.
Di tengah gencarnya usaha melawan penjajahan muncul persoalan baru di dunia Islam, yaitu terjadinya ekspansi gerakan Wahabi dari Najed, Arab Pedalaman yang menguasai Hijaz tempat suci Makkah dikuasai tahun 1924 M dan menaklukkan Madinah 1925 M.
Persoalan menjadi genting ketika aliran baru itu hanya memberlakukan satu aliran, yakni Wahabi yang puritan dan ekslusif. Sementara madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali yang selama ini hidup berdampingan di Tanah Suci itu, tidak diperkenankan lagi diajarkan dan diamalkan di Tanah Suci. Anehnya, kelompok modernis Indonesia setuju dengan paham Wahabi.
KH. Abdul Wahab lantas membentuk Komite Khilafat beranggotakan para ulama pesantren, dengan nama Komite Hijaz atas izin KH. Hasyim Asy’ari. Komite ini bertujuan untuk mencegah cara beragama model Wahabi yang tidak toleran dan keras kepala, yang dipimpin langsung Raja Abdul Aziz.
Untuk mengirimkan delegasi ini diperlukan organisasi yang kuat dan besar, maka dibentuklah organisasi yang diberi nama Nahdlatul Ulama pada tanggal 31 Januari 1926. KH. Abdul Wahab Hasbullah bersama Syaikh Ghonaim al-Misri yang diutus mewakili NU untuk menemui Raja Abdul Aziz Ibnu Saud. Usaha ini direspon baik oleh raja Abdul Aziz.
Beberapa hal penting hasil dari Komite Hijaz ini di antaranya adalah, makam Nabi Muhammad SAW dan situs-situs sejarah Islam tidak jadi dibongkar serta dibolehkannya praktik madzhab yang beragam, walaupun belum boleh mengajar dan memimpin di Haramain.
Seorang Inspirator GP Ansor
Dari catatan sejarah berdirinya GP Ansor dilahirkan dari rahim Nahdlatul Ulama (NU). Berawal dari perbedaan antara tokoh tradisional dan tokoh modernis yang muncul di tubuh Nahdlatul Wathan, organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan Islam, pembinaan mubaligh dan pembinaan kader. KH. Abdul Wahab Hasbullah, tokoh tradisional dan KH. Mas Mansyur yang berhaluan modernis, akhirnya menempuh arus gerakan yang berbeda justru saat tengah tumbuhnya semangat untuk mendirikan organisasi kepemudaan Islam. Dua tahun setelah perpecahan itu, pada 1924 para pemuda yang mendukung KH. Abdul Wahab Hasbullah -yang kemudian menjadi pendiri NU- membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air).
Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya mengalami perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).
Nama Ansor ini merupakan saran KH. Abdul Wahab Hasbullah —ulama besar sekaligus guru besar kaum muda saat itu, yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah. Dengan demikian ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah serta tauladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut. Gerakan ANO harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar sahabat Ansor, yakni sebagi penolong, pejuang dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam.
Meski ANO dinyatakan sebagai bagian dari NU, secara formal organisatoris belum tercantum dalam struktur organisasi NU. Baru pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU. Dimasukkannya ANO sebagai salah satu departemen dalam struktur kelembagaan NU berkat perjuangan kiai-kiai muda seperti KH. Mahfudz Siddiq, KH. Wahid Hasyim, KH. Dachlan.
Karya Dan Pemikiran
Selain ahli dalam bidang politik, KH. Abdul Wahab adalah seorang ulama tauhid dan juga fiqih yag sangat mendalam dan luas pengetahuannya. Dengan ilmunya itu, itu dengan mudah mampu menerapkan prinsip-prinsip fiqih dalam kehidupan modern secara progresif, termasuk dalam bidang fiqih siyasah.
Kitab yang ditulisnya Sendi Aqoid dan Fikih Ahlussunnah Wal Jama’ah, menunjukkan kedalaman penguasanya di bidang ilmu dasar tersebut. Ini yang kemudian menjadi dasar bagi perjalanan Ahlusunnah Waljamaah di lingkungan NU.
Dalam tiap bahtsul masail muktamar NU, beliau selalu memberikan pandangannya yang mampu menerobos berbagai macam jalan buntu (mauquf) yang dihadapi ulama lain.
KH. Abdul Wahab sadar betul mengenai pentingnya pendidikan masyarakat umum. Karena itu dirintis beberapa majalah dan surat kabar seperti Berita Nahdlatoel Oelama, Oetoesan Nahdlatoel Oelama, Soeara Nahdlatoel Oelama, Duta Masyarakat, dan sebagainya. Beliau sendiri aktif salah seorang penyandang dananya dan sekaligus sebagai penulisnya. Propaganda di sini juga sangat diperlukan dan media ini sangat strategis dalam mepropagandakan gerakan NU dan pesantren ke publik. Gagasan itu semakin memperoleh relevansinya ketika KH. Mahfudz Siddiq dan KH. Wahd Hasyim turut aktif dalam menggerakkan pengembangan media massa itu.
Keluarga
Pada tahun 1914 M. KH. Abdul Wahab Hasbullah menikah dengan putri Kiai Musa yang bernama Maimunah. Sejak itu beliau tinggal bersama mertua di kampung Kertopaten Surabaya. Dari perkawinan ini lahir seorang anak laki-laki pada tahun 1916 M bernama Wahib, yang kemudian dikenal sebagai Kiai Wahab Wahib. Namun, pernikahan dan membina rumah tangga ini tidak berlangsung lama. Istrinya meninggal sewaktu mereka berdua menjalankan ibadah haji pada tahun 1921 M.
Setelah itu KH. Abdul Wahab Hasbullah menikah lagi dengan perempuan bernama Alawiyah, putri Kiai Alwi. Namun pernikahan ini pun tidak berlangsung lama sebab setelah mendapatkan putra, istrinya meninggal. Begitu juga untuk ketiga kalinya beliau menikah lagi, namun pernikahannya tidak berlangsung lama. Tidak jelas siapakah nama istri ketiganya ini. Juga, penyebab terputusnya pernikahan yang tidak lama tersebut, apakah karena istrinya meninggal atau bercerai.
Dari sini beliau menikah lagi, pernikahan keempat dilakukan dengan Asnah, putri Kiai Sa’id, seorang pedagang dari Surabaya dan memperoleh empat orang anak, salah satunya bernama Kiai Nadjib (almarhum) yang selanjutnya mengasuh Pesantren Tambakberas. Namun lagi-lagi pernikahan ini tidak langgeng kembali. Nyai Asnah meninggal dunia.
Kemudian KH. Abdul Wahab menikah lagi untuk yang kelima kalinya dengan seorang janda bernama Fatimah, anak Haji Burhan. Dari pernikahan ini beliau tidak mendapatkan keturunan. Namun, dari Fatimah beliau memperoleh anak tiri yang salah satunya kelak besar bernama KH. A. Syaichu.
Dari sinilah banyak orang mencemooh perilaku KH. Abdul Wahab. Tidak jarang, banyak orang yang menjulukinya sebagai “kiai tukang kawin” karena setelah itupun beliau menikah kembali untuk yang keenam kalinya. Kali ini dengan anak Kiai Abdul Madjid Bangil, yang bernama Ashikhah. Pernikahan inipun tidak berlangsung lama karena saat menunaikan ibadah haji bersama, Nyai Ashikhah meninggal dunia. Dari istri ini beliau dikaruniai empat orang anak.
Pernikahan beliau yang terakhir, yang ketujuh adalah dengan kakak perempuan Ashikhah, bernama Sa’diyah. Dengan perempuan inilah pernikahan KH. Abdul Wahab mencapai puncaknya, artinya langgeng sampai akhir hayat beliau. Dari Nyai Sa’diyah ini beliau mendapatkan beberapa keturunan, yaitu Mahfuzah, Hasbiyah, Mujidah, Muhammad Hasib dan Raqib.
Wafat
KH. Abdul Wahab Hasbullah wafat pads tanggal; 29 Desember 1971, empat hari setelah beliau terpilih kembali sebagai Rais Aam pada Muktamar NU di Surabaya.
Dari berbagai sumber


Share:

Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari


Pendiri Nahdlatul Ulama (NU)

Bagi masyarakat Indonesia, tentu organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama sudah banyak yang mengetahuinya. NU adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan bukan saja di Indonesia, kabarnya Nahdlatul Ulama juga merupakan organisasi Islam terbesar di dunia. Fakta ini dikarenakan Nahdlatul Ulama memiliki pengikut sangat besar di Indonesia dan di dunia.
Hal ini tidak bisa dilepaskan karena ideologi dan cara pandang NU yang lebih bisa diterima di kalangan masyarakat Islam baik di dunia maupun di Dunia. Kembali kepada KH. Hasyim Asy'rie, lalu siapa KH. Hasyim Asy'arie ini, apa hubungannya dengan Nahdlatul Ulama. KH. Hasyim Asy'arie adalah pendiri dari Nahdlatul Ulama, beliaulah yang menggagas pentingnya mendirikan organisasi berbasis agama Islam yaitu NU.

Pendidikan KH. Hasyim Asy'ari

Sejak kecil, KH. Hasyim Asy'ari sudah mendapatkan pendidikan Islam yang kuat dari orang tuanya. KH. Hasyim Asy'ari dilahirkan dari pasangan ayah yang bernama Kyai Asy'sari yang merupakan pimpinan dari pesantren di Keras Jombang. Sedangkan Ibunya adalah Halimah yang membawa trah keturunan Joko Tongkir kepada Hasyim Asy'ari. Hasyim Asy'ari sendiri merupakan keturunan Joko Tingkir (Sultan Pajang) ke delapan.

Pendidikan Hasyim Asy'ari bisa dikatakan sejak kecil sudah belajar agama Islam kepada ayahnya sendiri. Dalam pendidikan agama Islam yang ia dapat, terutama terkait dasar-dasar agama, KH. Hasyim Asy'ari tidak saja mendapatkan ilmu dari ayahnya, namun juga mendapatkannya dari kakeknya yaitu Kyai Utsman.Baru kemudian menginjak usia 15 tahun Hasyim Asy'ari meninggalkan kedua orang tuanya untuk nyantri di pondok Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian petualangan beliau dilanjutkan ke Pondok Pesantren Trenggilis, Semarang. Setelah itu kemudian dilanjutkan ke Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah bimbingan Syaikh Kholil Bangkalan.

Petualangan pencarian ilmu agama Hasyim Asy'ari tidak berhenti sampai di situ saja. Perjalanan nyantri Hasyim Asy'ari di tanah Jawa sangat panjang, seperti di  Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Trenggilis di Semarang dan di Pesantren Siwalan di Sidoarjo. Di bawah asuhan Kyai Ya'qub di Sidoarjo inilah nampaknya Hasyim Asy'arie muda menemukan kecocokan dalam menempuh pendidikan Agama Islam. Dan ternyata bukan saja Hasyim Asy'arie yang merasa nyaman belajar agama di Sidoarjo, namun ternyata gurunya yaitu Kyai Ya'qub juga sangat tertarik dengan sosok muda yang cerdas ini.

Pada saat nyantri di Sidoarjo ini ternyata KH. Hasyim Asy'arie tidak saja mendapatkan ilmu agama, namun beliau juga memperoleh istri. Hal ini karena pada usia 21 tahun KH. Hasyim Asy'arie dinikahkan dengan salah seorang putri Kyainya yang bernama Chadijah. Setelah menikah, lalau KH. Hasyim Asy'arie kemudian pergi ke Mekkah bersama istri untuk menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan kemudian beliau kembali ke tanah air setelah istri dan anaknya meninggal dunia.

Tak lama di tanah air, Hasyim Asy'arie kemudian memutuskan untuk kembali ke Mekkah dan menetap di sana selama kurang lebih tujuh tahun. Di Mekkah beliau banyak berguru ke ulama-ulama besar baik dari Mekkah sendiri maupun ulama Indonesia yang menetap di Mekkah. Beberapa guru KH. Hasyim Asy'ari diantaranya adalah Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Mahfudh At Tarmisi, Syaikh Ahmad Amin Al Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said Yamani, Syaikh Rahmaullah, Syaikh Sholeh Bafadlal, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Alwi bin Ahmad As Saqqaf, dan Sayyid Husein Al Habsyi.

KH. Hasyim Asy'arie Mulai Mengajar Di Pesantren

Sepulang dari Mekkah, KH. Hasyim Asy'ari kemudian mulai mengajar di pesantren. Beliau mengajar di pesantren kakeknya yaitu Kyai Usman. Kemudian pada tahun 1899 Kyai Hasyim kemudian membeli sebidang tanag di Dukuh Tebuireng. Di sebidang tanah tersebut kemudian Kyai Hasyim mendirikan sebuah bangunan berupa bambu atau dalam bahasa Jawa tratak namanya. Bangunan tersebut digunakan sebagai tempat tinggal, di tratak bagian depan, digunakan KH. Hasyim Asy'ari untuk mengajar dan untuk sholat berjamaah. Sedangkan tratak bagian belakang digunakan sebagai tempat tinggal beliau. Pada awalnya, santri beliau hanya berjumlah 8 orang, selang tiga bulan kemudian bertambah menjadi 28 orang.

Setelah mengembangkan pesantren dan mengajarkan agama Islam di Tebuireng selama dua tahun, kembali KH. Hasyim Asy'arie kehilangan istri tercintanya Nyai Khodijah. Sepeninggalh Chodijah, KH. Hasyim Asy'ari kemudian menikah kembali dengan Nyai Nafiqoh yang merupakan putri dari Kyai Ilyas, pengasuh Pondok Pesantren Sewulan Madiun. Dari pernikahan dengan Nyai Nafiqoh ini, Kyai Hasyim dikaruniai beberapa anak yaitu 1) Hannah, (2) Khoiriyah, (3) Aisyah, (4) Azzah, (5) Abdul Wahid, (6) Abdul Hakim (Abdul Kholik), (7) Abdul Karim, (8) Ubaidillah, (9) Mashuroh, (10) Muhammad Yusuf.

Kyai Hasyim Asy'ari merupakan Kyai yang sangat cemerlang dalam keilmuan Islam. Kailmuan beliau yang paling terkenal adalah kemampuannya dalam bidang ilmu hadith. Bahkan setiap bulan Ramadlan beliau selalu menghatamkan kajian Hadith Bukhari Muslim. Dan, yang luar biasa adalah, bahwa murid beliau bukan saja dari kalangan orang biasa. Bahkan guru beliau sendiri yaitu Syaikh Kholil Bangkalan juga berguru kepada beliau. Syaikh Kholil Bangkalan mengakui keilmuan KH. Hasim Asy'arie dan kemudian beliau memutuskan untuk mengaji kepada muridnya tersebut. Padahal KH. Hasyim Asy'arie sendiri tidak bersedia menjadi guru dari Syaih Kholil, karena beliau merasa murid dan akan selamanya menjadi murid dari Syaikh Kholil Bangkalan.

Hubungan KH. Hasyim Asy'ari Dengan KH. Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah

Selama ini, NU dan Muhammadiyah seperti kita ketahui bersama selalu berbeda pandangan terkait berbagai masalah dalam Islam. Pimpinan-pimpinan kedua organisasi Islam tersebut terlihat cenderung saling berlawanan dalam segi pemikiran. Namun sebenarnya pada dasarnya kedua organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut memiliki hubungan yang sangat erat. Hal ini karena para pendiri dari masing-masing organisasi tersebut adalah satu Guru. Ya, KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Ahmad Dahlan adalah sama-sama murid dari Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabau.

Perlu dipahami bahwa ketika beliau berdua nyantri di Mekkah terjadi pembaharuan yang luar biasa dari Muhammad Abduh dengan pemikirannya. Tentu pemikran baru ini juga menarik bagi para pelajar dari Indonesia termasuk juga KH. Hasyim Asy'ari dan juga KH. Ahmad Dahlan. Sebenarnya guru beliau juga tidak sama sekali menolak cara pandang dari Muhammad Abduh, namun juga tidak menerima nya secara keseluruhan. Nah, dari sini kemudian ada beberapa santri dari Indonesia yang membawa ideologi dari Muhammad Abduh ke Indonesia dengan pembaharuannya yang salah satunya adalah KH. Ahmad Dahlan yang kemudian mendirikan Muhammadiyah.

KH. Hasyim Asy'ari sendiri sebenarnya ada yang menyebutkan setuju dengan beberapa pandangan pembaharuan dari Muhammad Abduh. Namun beliau tidak setuju jika harus meninggalkan madzhab dalam beragama Islam. Karena beliau berpandangan bahwa tidak mungkin akan bisa memahami Hadith dan Al-Qur'an tanpa mempelajari pandangan dari ulama-ulama besar terdahulu yang tergabung dalam Ulama Madzhab. Karena melakukan penafsiran terhada baik Hadith ataupun Al-Qur'an tanpa mempelajari pandangan ulama terdahulu, hanya akan membawa kita kepada pemutar balikkan fakta, begitu pandangannya.

Biodata KH. Hasyim Asy’arie
  • Lahir : 10 April 1875
  • Kota : Kabupaten Demak, Jawa Tengah
  • Meninggal : 7 September 1947
  • Kota : Jombang, Jawa Timur
  • Dikenal karena : Pendiri Nahdlatul Ulama
  • dan Pahlawan Nasional
  • Gelar : Hadratusy Syaikh
  • Pengganti : K.H. A. Wahab Hasbullah
  • Agama : Islam
  • Pasangan : Nyai Chodijah, Nyai Nafiqoh, Nyai Masruroh
  • Anak   : Hannah, Khoiriyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid, Abdul Hakim (Abdul Kholiq), Abdul Karim, Ubaidillah, Mashurroh, Muhammad Yusuf


Share:

Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid)


Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur adalah presiden RI ke empat. Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil pada tanggal 4 Agustus 1940 di Denanyar Jombang. Sulung dari enam bersaudara ini adalah putera dari seorang pahlawan nasional. Ayahnya, KH. Abdul Wahid Hasyim, adalah tokoh NU yang menjadi menteri agama RI pertama. Kakeknya adalah KH. Hasyim Asy’ari, seorang kyai besar sekaligus dikenal sebagai pendiri Nahdlatul ‘Ulama (NU). Ibunya Gus Dur bernama Sholihah, adalah puteri KH. Bisyri Syamsuri, yang juga merupakan tokoh besar NU dan pernah pula menjabat sebagai Rais ‘Am ketiga setelah KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Hasbullah.  Secara garis keturunan ini Gus Dur berasal dari tradisi pesantren dan merupakan darah biru. Melihat dari latar belakang ini, wajar bila kemudian perjalanan intelektualitasnya tidak lepas dari kultur pesantren.

Pendidikan dasar Gus Dur didapatkan Jakarta yaitu di SD KRIS dan akhirnya pindah ke SD Matraman Perwari. Pada tahun 1953, Gus Dur kecil lulus dari pendidikan dasarnya dan melanjutkan pendidikan menengah di Yogyakarta. Ia masuk ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (1953-1957). Ia juga nyantri di Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak Jogjakarta dengan menetap di rumah tokoh NU KH. Ali Ma’sum.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Yogyakarta, Gus Dur pindah ke Magelang. Ia mendalami ilmu agama di Pesantern Tegalrejo Magelang tahun 1957-1959 di bawah asuhan KH. Khudlori. Ia melanjutkan pendidikan agamanya di Pesantren Tambakberas di Kota Jombang tahun 1959.

Karena tingkat intelektualitasnya yang mumpuni, pada tahun 1963 Gus Dur mendapat beasiswa dari kementerian agama, untuk melanjutkan pendidikan tinggi di universitas al-Azhar di Kairo. Ia pun berangkat ke Mesir pada November 1963. Namun lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan American University Library, salah satu perpustakan terlengkap di Kairo.

Gus dur merasa kecewa dengan sistem pendidikan al-Azhar, namun dia sangat menikamati kehidupannya di Mesir. Selain menonton pertandingan bola, ia suka menonton film Eropa dan Amerika.

Akibat rasa kecewanya, Gus Dur melanjutkan petualangan ke Baghdad.  Dia kuliah di Departement of Religion Universitas Baghdad, Irak.  Dan menyelesaikan pendidikannya di Irak pada tahun 1970.

Gus Dur ingin melanjutkan pendidikannya di Eropa. Pada tahun 1971ia melakukan penjajakan pada Universitas Kohln, Heidelberg, Paris dan Leiden. Tapi sayangnya kualisifaki mahasiswa Timur Tengah tidak diterima di Universitas-universitas Eropa, sehingga ia pergi ke Mc Gill University, Kanada, untuk mempelajari kajian-kajian keislaman secara mendalam.

Pada akhir tahun 1971, Gus Dur memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Dari sinilah perjalanan karirnya dimulai.

Gus Dur menjadi pengajar di Universitas Hasyim Asy’ri Jombang dari tahun 1972 - 1974. Atas permintaan pamannya KH Yusuf Hasyim, ia menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng pada tahun 1974-1980. Selain itu Gus Dur aktif menulis di berbagai media massa. Tulisan-tulisan Gus Dur cukup berkualitas dan ia pun mencoba menjadi komentator sosial. Popularitas Gus Dur makin menanjak dan ia sering mendapatkan undangan untuk memberikan kuliah dan seminar di Jakarta.

Pada tahun 1979 Gus Dur memutuskan pindah ke Jakarta. Abdurrahman Wahid menjadi wakil katib Syuriah PBNU. Disini, ia terlibat dalam banyak aktifitas, diskusi dan perdebatan serius mengenai masalah sosial, politik, keagamaan, pesantern, dan budaya, dengan berbagai kalangan lintas agama, suku dan disiplin, di pelbagai tempat dalam dan luar negeri.

Diluar sebagai tokoh agama, Gus Dur juga terlibat dalam seni budaya. Pada tahun 1980-1983 Gus Dur menjadi anggota  pertimbangan Agha Khan Award untuk Arsitektur Khan di Indonesia. Pada tahun 1983-1985 menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta Jakarta (DKJ) Taman Ismail Marzuki periode 1983-1985. . Ia juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) 1986, 1987.

Keterlibatan Gus Dur dalam kegiatan tersebut, tidak sedikitpun menyurutkan perhatiannya untuk perkembangan NU. Pada tahun 1984 saat muktamar ke-27 NU di Pondok Pesantren Salafiyah Sukorejo Situbondo,, Gus Dur pun terpilih secara aklamasi untuk menduduki jabatan ketua umum PBNU. Tercatat Gus Dur tiga kali menjadi ketua PBNU. Ia terpilih kembali pada muktamar ke-28 di pesantren Krapyak Jogjakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994).

Pada masa pemerintahan Habibie atau tepatnya 23 Juli 1998 ,  Abdurrahman Wahid bersama para kiai para kiai-kiai Nahdlatul Ulama mempelopori terbentuknya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Pada Juni 1999, PKB sudah ikut dalam pemilu legislatif dan memperoleh suara 12 % . Sedangkan pemenang pemilu pada saat itu PDI-P, memperoleh suara 33 %. Megawati beranggapan bahwa akan memenangkan pemilihan presiden pada sidang MPR. PDI-P sadar bahwa suara mereka tidak terlalu mayoritas, sehingga berkoalisi dengan PKB.

Pada Juli 1999, Amien Rais menggalang koalisi poros tengah yang terdiri dari partai-partai Islam. Koalisi ini mengajukan Abdurrahman Wahid sebagai calon presiden. Akhirnya pada tanggal 20 Oktober 1999, lewat sidang MPR, Gus Dur terpilih menjadi Presiden RI ke 4. Gus Dur memperoleh 373 suara mengungguli Megawati yang memperoleh 313 suara. Pada kesempatan itu juga Gus Dur mencalonkan Megawati sebagai wakilnya. Dan Megawati terpilih setelah mengalahkan Hamzah Haz.

Akhir jabatan Presiden K.H. Abdurrahman Wahid terjadi ketika berlangsung Sidang istimewa MPR pada tanggal 23 Juli 2001.  MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri.

Gus Dur adalah tokoh yang pluralis. Ia sangat peduli dengan keberagaman, perbedaan dan keanekaragaman. Termasuk dalam hal kehidupan beragama. Ia sangat dekat dengan tokoh-tokoh agama lain selain Islam. Ia juga sering keluar masuk tempat peribadatan agama-agama lain. Gus Dur juga yang berani membela orang etnis Tionghoa untuk mendapatkan hak yang sama sebagai warga negara. 

Gus Dur meninggal pada tanggal 30 Desember 2009. Ia meninggalkan istrinya Sinta Nuriah yang dinikahinya 11 Juli 1968 dan 4 orang puteri Alissa Qotrunnada, Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari. Pada pernikahannya Gus Dur diwakilkan oleh kakeknya Kiai Bisri Syansuri karena pada saat itu ia masih ada di Mesir. (dari berbagai sumber)


Share:

Hari Guru Nasional

Selamat Hari Guru Nasional 2025, “Merawat Semesta dengan Cinta.”

Recent Posts