Madrasah Hebat Bermartabat

Tampilkan postingan dengan label WARTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WARTA. Tampilkan semua postingan

MWCNU Patimuan Gelar Upacara Hari Santri 2019

Selasa 22 Oktober 2019, jajaran Pengurus MWCNU Patimuan menggelar upacara untuk memperingati hari santri 2019 bertepat di lapangan MI Ma'arif NU Cinyawang. Upacara ini sangat unik karena semua petugas dan peserta upacara memakai sarung.

Upacara digelar mulai pukul 08.00 WIB, diikuti oleh seluruh Pengurus dan Badan Otonom NU baik ranting maupun wakil cabang/anak cabang, para pejabat pemerintah, ribuan kiyai dan Santri. Bertindak sebagai inspektur upacara Camat Patimuan yakni Iskandar Zulkarnain.



Upacara ini semakin khidmat manakala dikumandakan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars Hari Santri , Ya Lal Walthon dan Sholawat Badar. Selanjutnya menjadi semakin semarak ketika yel-yel ala NU diteriakkan: Siapa kita? NU!!! Pancasila... !!! Jaya ... !!! Nusantara ... Milik Kita ... !!! Bersama NU ... Kita Berkah.

Upacara Hari Santri sarat nuansa harmoni keragaman. Ini senada dengan pesan yang disampaikan Iskandar Zulkarnain selaku inspektur upacara, bahwa pesantren adalah laboratorium perdamaian.


"Pesantren laboratorium perdamaian, tempat menyemai ajaran Islam rahmatan lil alamin," ujarnya, Selasa (22/10/2019).
Menurutnya, santri terbiasa dengan keterbukaan kajian dari berbagai kitab, bahkan lintas madzhab. Santri dididik belajar menerima perbedaan dari sumber hukum otentik. Santri terbiasa dengan moderasi dalam beragama.
"Moderasi penting bagi masyarakat plural sehingga keberagamaan dapat disikapi bijak serta toleransi dan keadilan terwujud," tandasnya.
Share:

TERM OF REFERENCE PERINGATAN HARI SANTRI 2019



I. DASAR PEMIKIRAN

Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri. Penetapan tanggal 22 Oktober merujuk pada tercetusnya “Resolusi Jihad” yang berisi fatwa kewajiban berjihad demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Resolusi jihad ini kemudian melahirkan peristiwa heroik 10 Nopember 1945 yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Sejak Hari Santri ditetapkan pada tahun 2015, Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam selalu menggelar peringatan setiap tahunnya dengan tema yang berbeda. Secara berurutan pada tahun 2016 mengusung tema “Dari Pesantren untuk Indonesia”, tahun 2017 “Wajah Pesantren Wajah Indonesia”, dan tahun 2018 “Bersama Santri Damailah Negeri”.

Meneruskan tema Hari Santri 2018, peringatan Hari Santri 2019 mengusung tema “Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia”. Isu perdamaian diangkat berdasar fakta bahwa sejatinya pesantren adalah laboratorium perdamaian. Sebagai laboratorium perdamaian, pesantren merupakan tempat menyemai ajaran Islam rahmatanlilalamin, Islam ramah dan moderat (wasatiyah). Semangat ajaran inilah yang dapat menginspirasi santri untuk berkontribusi merawat perdamaian dunia. Rangkaian peringatan telah dimulai dengan Santri Millennial Competitions yang berisi Sayembara Logo Hari Santri 2019 sejak 5-18 Agustus 2019. Sementara Lomba Video Iklan Layanan Masyarakat tentang Perdamaian, Muhadhoroh Santri Cinta Damai, Pesan Ulama, dan Syair Pesantren pada tanggal 5 Agustus-30 September 2019. Panitia menyediakan hadiah mencapai 207,5 juta bagi para pemenang untuk kategori santri dan umum.

Launching peringatan Hari Santri 2019 akan dilakukan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di kantor Kementerian Agama pada tanggal 19 September 2019 dengan balutan Orchestra Perdamaian yang mengusung tema “Seribu Cahaya Santri untuk Perdamaian Dunia”.

Disusul Kopdar Akbar Santrinet Nusantara yang berlangsung pada tanggal 19-21 September 2019. Para admin media online dan media sosial santri atau pesantren akan membincang strategi gerakan pengarusutamaan moderasi beragama dan perdamaian, sekaligus meramaikan jagat dunia maya dengan konten-konten yang positif.

Yang tidak kalah menarik adalah Muktamar Pemikiran Santri Nusantara yang diselenggarakan melalui metode call paper di Ma’had Aly Saíidussiddiqiyyah Jakarta pada tanggal 28-30 September 2019. Tema kajian tentang pesantren dan perdamaian dengan menghadirkan para tokoh yang selama ini konsen pada gerakan perdamaian di dunia internasional.

Berbarengan Muktamar Pemikiran Santri Nusantara juga akan digelar Malam Kebudayaan Pesantren dengan konsep “Ngaji, Ngopi, Ngomedi” yang akan diisi dengan dialog dan humor-humor ala pesantren dari para tokoh pesantren, ada juga Komunitas Musik Mengaji (KOMUJI), serta penampilan santri milenial. Tanggal 6 Oktober 2019 dilaksanakan gerakan nasional Ro’an Akbar “Jaga Bumi, Jaga Hati” yang akan diikuti oleh pengasuh dan santri di seluruh pesantren di Indonesia. Roán merupakan tradisi kerjabakti santri menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan pesantren.

Seminggu kemudian pada tanggal 13 Oktober 2019 dilanjutkan dengan Parade Santri Cinta Damai bersamaan dengan Car Free Day di sepanjang jalan Jalan MH. Thamrin-Sudirman Jakarta Pusat. Parade Santri Cinta Damai akan menampilkan berbagai atraksi dan budaya pesantren yang beragam, kampaye perdamaian, serta pembentangan bendera merah putih sepanjang 1 kilo meter yang dibawa oleh para santri.

Sedangkan tanggal 21 Oktober 2019 sebagai malam puncak Hari Santri 2019 atau “SantriVersary” yang rencananya akan dihadiri Presiden Republik Indonesia. SantriVersary yang dikemas dengan Salawat dan Tausiah Kebangsaan ini akan diisi Gus Muwafiq, Habib Jindan bin Novel Salim Jindan, dan Syubbanul Muslimin dari Probolinggo Jawa Timur.

Pagi harinya pada tanggal 22 Oktober 2019 yang telah ditetapkan sebagai Hari Santri akan dilaksanakan upacara bendera oleh Kementerian Agama dan pesantren di seluruh Indonesia. Dimaksudkan sebagai refleksi atas kejuangan, keteladanan dan kontribusi santri sejak sebelum kemerdekaan, saat kemerdekaan hingga sekarang, sekaligus memperteguh komitmen Santri Indonesia untuk Perdamamaian Dunia.

Setidaknya ada sembilan alasan dan dasar mengapa pesantren layak disebut sebagai laboratorium perdamaian. Selanjutnya, sembilan alasan dan dasar ini menjadi acuan dalam menyusun desain peringatan Hari Santri 2019. Pertama; Kesadaran harmoni beragama dan berbangsa. Perlawanan kultural di masa penjajahan, perebutan kemerdekaan, pembentukan dasar negara, tercetusnya Resolusi Jihad 1945, hingga melawan pemberontakan PKI misalnya, tidak lepas dari peran kalangan pesantren. Sampai hari ini pun komitmen santri sebagai generasi pecinta tanah air tidak kunjung pudar. Sebab, mereka masih berpegang teguh pada kaidah hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman).

Kedua; Metode mengaji dan mengkaji. Selain mendapatkan bimbingan, teladan dan transfer ilmu langsung dari kiai, di pesantren diterapkan juga keterbukaan kajian yang bersumber dari berbagai kitab, bahkan sampai kajian lintas mazhab. Tatkala muncul masalah hukum, para santri menggunakan metode bahsulmasail untuk mencari kekuatan hukum dengan cara meneliti dan mendiskusikan secara ilmiah sebelum menjadi keputusan hukum. Melalui ini para santri dididik untuk belajar menerima perbedaan, namun tetap bersandar pada sumber hukum yang otentik.

Ketiga; Para santri biasa diajarkan untuk khidmah (pengabdian). Ini merupakan ruh dan prinsip loyalitas santri yang dibingkai dalam paradigma etika agama dan realitas kebutuhan sosial.

Keempat; Pendidikan kemandirian, kerja sama dan saling membantu di kalangan santri. Lantaran jauh dari keluarga, santri terbiasa hidup mandiri, memupuk solidaritas dan gotong-royong sesama para pejuang ilmu.

Kelima; Gerakan komunitas seperti kesenian dan sastra tumbuh subur di pesantren. Seni dan sastra sangat berpengaruh pada perilaku seseorang, sebab dapat mengekspresikan perilaku yang mengedepankan pesan-pesan keindahan, harmoni dan kedamaian.

Keenam; Lahirnya beragam kelompok diskusi dalam skala kecil maupun besar. Setting kamar kebanyakan pesantren relatif padat. Satu kamar berukuran kecil bisa ditempati oleh 8 orang lebih. Kondisi ini membuat mereka sering membuat forum kecil untuk membahas hal-hal remeh sampai yang serius. Dialog kelompok membentuk santri berkarakter terbuka terhadap hal-hal berbeda dan baru.

Ketujuh; Merawat khazanah kearifan lokal. Relasi agama dan tradisi begitu kental dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pesantren menjadi ruang yang kondusif untuk menjaga lokalitas di tengah arus zaman yang semakin pragmatis dan materialistis.

Kedelapan; Prinsip Maslahat (kepentingan umum) merupakan pegangan yang sudah tidak bisa ditawar lagi oleh kalangan pesantren. Tidak ada ceritanya orang-orang pesantren meresahkan dan menyesatkan masyarakat. Justru kalangan yang membina masyarakat kebanyakan adalah jebolan pesantren, baik itu soal moral maupun intelektual.

Kesembilan; Penanaman spiritual. Tidak hanya soal hokum Islam (fikih) yang didalami, banyak pesantren juga melatih para santrinya untuk tazkiyatunnafs, yaitu proses pembersihan hati. Ini biasanya dilakukan melalui amalan zikir dan puasa, sehingga akan melahirkan fikiran dan tindakan yang bersih dan benar. Makanya santri jauh dari pemberitaan tentang intoleransi, pemberontakan, apalagi terorisme.

Di samping alasan pesantren sebagai laboratorium perdamaian, keterpilihan Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) sejak 2 Januari 2019 hingga 31 Desember 2020 dan penobatan Indonesia sebagai Presiden DK PBB selama bulan Mei 2019–dimana bargaining position Indonesia dalam menginisiasi dan mendorong proses perdamaian dunia semakin kuat dan nyata–menjadi momentum bagi seluruh elemen bangsa, terutama kalangan santri Indonesia agar turut berperan aktif dan terdepan dalam menyampaikan pesan-pesan perdamaian di dunia internasional.

Adapun rangkaian peringatan telah dimulai dengan Santri Millennial Competitions yang berisi Sayembara Logo Hari Santri 2019 sejak 5-18 Agustus 2019. Sementara Lomba Video Iklan Layanan Masyarakat tentang Perdamaian, Muhadhoroh Santri Cinta Damai, Pesan Ulama, dan Syair Pesantren pada tanggal 5 Agustus-30 September 2019. Panitia menyediakan hadiah mencapai 207,5 juta bagi para pemenang untuk kategori santri dan umum.

Launching peringatan Hari Santri 2019 akan dilakukan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di kantor Kementerian Agama pada tanggal 19 September 2019 dengan balutan Orchestra Perdamaian yang mengusung tema “Seribu Cahaya Santri untuk Perdamaian Dunia”.

Disusul Kopdar Akbar Santrinet Nusantara yang berlangsung pada tanggal 19-21 September 2019. Para admin media online dan media sosial santri atau pesantren akan membincang strategi gerakan pengarusutamaan moderasi beragama dan perdamaian, sekaligus meramaikan jagat dunia maya dengan konten-konten yang positif.

Yang tidak kalah menarik adalah Muktamar Pemikiran Santri Nusantara yang diselenggarakan melalui metode call paper di Ma’had Aly Saíidussiddiqiyyah Jakarta pada tanggal 28-30 September 2019. Tema kajian tentang pesantren dan perdamaian dengan menghadirkan para tokoh yang selama ini konsen pada gerakan perdamaian di dunia internasional.

Berbarengan Muktamar Pemikiran Santri Nusantara juga akan digelar Malam Kebudayaan Pesantren dengan konsep “Ngaji, Ngopi, Ngomedi” yang akan diisi dengan dialog dan humor-humor ala pesantren dari para tokoh pesantren, ada juga Komunitas Musik Mengaji (KOMUJI), serta penampilan santri milenial. Tanggal 6 Oktober 2019 dilaksanakan gerakan nasional Ro’an Akbar “Jaga Bumi, Jaga Hati” yang akan diikuti oleh pengasuh dan santri di seluruh pesantren di Indonesia. Roán merupakan tradisi kerjabakti santri menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan pesantren.

Seminggu kemudian pada tanggal 13 Oktober 2019 dilanjutkan dengan Parade Santri Cinta Damai bersamaan dengan Car Free Day di sepanjang jalan Jalan MH. Thamrin-Sudirman Jakarta Pusat. Parade Santri Cinta Damai akan menampilkan berbagai atraksi dan budaya pesantren yang beragam, kampaye perdamaian, serta pembentangan bendera merah putih sepanjang 1 kilo meter yang dibawa oleh para santri.

Sedangkan tanggal 21 Oktober 2019 sebagai malam puncak Hari Santri 2019 atau “SantriVersary” yang rencananya akan dihadiri Presiden Republik Indonesia. SantriVersary yang dikemas dengan Salawat dan Tausiah Kebangsaan ini akan diisi Gus Muwafiq, Habib Jindan bin Novel Salim Jindan, dan Syubbanul Muslimin dari Probolinggo Jawa Timur.

Pagi harinya pada tanggal 22 Oktober 2019 yang telah ditetapkan sebagai Hari Santri akan dilaksanakan upacara bendera oleh Kementerian Agama dan pesantren di seluruh Indonesia. Dimaksudkan sebagai refleksi atas kejuangan, keteladanan dan kontribusi santri sejak sebelum kemerdekaan, saat kemerdekaan hingga sekarang, sekaligus memperteguh komitmen Santri Indonesia untuk Perdamamaian Dunia.

II. TEMA
Tema peringatan Hari Santri 2019 adalah “Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia”

III. RANGKAIAN KEGIATAN
Adapun rangkain peringatan Hari Santri 2019 sebagai berikut:
 V. PENUTUP
Demikian Term of Reference ini disusun sebagai acuan pelaksanaan Peringatan Hari Santri 2019. Apabila terdapat kekeliruan akan dilakukan perbaikan seperlunya. a.n. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, ttd Ahmad Zayadi

Share:

Husain Djabidi Mantan Kepala MA Al Ittihad Sidareja Meninggal



Setelah berduka atas meninggalnya Nur Afandi pada 29 Agustus 2019 lalu, mantan Kepala Madrasah Periode 2014-2019, MA Al-Ittihad Sidareja kembali kehilangan tokoh sesepuhya. KH. Drs. Husen Djabidi.  Beliau adaah mantan kepala MA. Al Ittihad Sidareja) periode seblaum Nur Afandi. Dikabarkan bahwa beliau meninggal dunia pada hari kamis 12 September 2019 pukul 20.30 WIB di RSUD Banjar Jawa Barat.

Berita duka ini viral di grup-grup  Watshap lembaga di bawah naungan Kementerian Agama Kabupaten Cilacap, tidak terkecuali di grup-grup Madrasah Aliyah Swasta.

KH Mun'imul Huda, Kepala MAS Syamsul Huda Kedungreja menulis:

Berita Duka

Innalillahi wainnaillahi roji'un 3× .
Telah berpulang ke rahmatulloh Bp. KH. Drs. Husen Djabidi (mantan kepala MA. Al Ittihad Sidareja) malam ini pukul 20.30 di RSUD Banjar..
Semoga khusnul khotimah.


Diamini oleh Mamat Rohmat, Kepala MA PK Insan Madani Karangpucung:

إِنَّا للهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ..
Turut berduka cita. Semoga HUSNUL KHOTIMAH

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزْلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ.
اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْلَنَا وَلَهُ وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ مَأْوَاهُ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ قَبْرَهُ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الجِنَانِ وَلاَ تَجْعَلْ قَبْرَهُ حُفْرَةً مِنْ حُفَرِ النِيْرانِ.
 آمِـيْن يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
برحمتك وبسرّ أسرار الفاتحة...

Tak ketinggalan kepala Madrasah Aliyah Swasta se-kabupaten Cilacap juga ikut berbela sungkawa dan mengamini doa-doa tersebut.

Semoga semua amal baik beliau diterima di sisi Allah SWT, semua amal bukruknya diampuni-Nya, disirami rohmat, berkah dan ni'mat selama beliau berada di alam kubur hingga datang hari kiamat.

Share:

Gebyar HUT RI Ke-74 Kecamatan Patimuan

Dalam rangka Merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI Ke-74, Pemerintah Kecamatan Patimuan bersama seluruh lembaga dan instansi sekecamatan Patimuan Selenggarakan Gebyar HUT RI Ke-74
Ayuh Padha berpartisipasi, aja padha isin. Meluu bae pokoke men keton guyub rukun kabeh. Gratisss .... gratisss ... Bisa entuk hadiah. Kiye acarane akeh banget. Ana lomba cature, gerak jalan, karnaval lan liya-liyane. Mangga diwaca bae,
Dirgahayu Republik Indonesia Ke-74, SDM UNGGUL INDONESIA MAJU, SUKSESKAN BANGGA MBANGUN DESA MENUJU INDONESIA UNGGUL.
Share:

Kemensesneg Revisi Logo dan Tema HUT Kemerdekaan ke-74 RI, Ini yang Terbaru

JAKARTA — Kementerian Sekretariat Negara melakukan revisi tema Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia.
Pada Juni lalu, melalui  Menteri Sekretaris Negara Pratikno menandatangani surat No. B 681 /M Sesneg/Set/TU 00 04/06/2019 tentang Penyampaian Tema dan Logo Peringatan Hari Kemerdekaan Tahun 2019 yang disampaikan ke pimpinan lembaga negara dan institusi
Dalam surat itu, tema besar HUT ke-74 RI adalah ‘Menuju Indonesia Unggul'.
Tema itu dilakukan penyempurnaan melalui surat No. B-779/M.Sesneg/SET/TU.00.04/07/2019. Surat tersebut ditandatangani Mensesneg pada 23 Juli 2019.
Dalam surat tersebut, tema HUT ke-74 RI pada tahun ini diganti menjadi ‘SDM Unggul Indonesia Maju’.
Sekretariat Negara juga menyeratkan sejumlah pedoman visual untuk pemasangan logo peringatan HUT RI pada tahun ini. Unduh di sini.
Mensesneg mengimbau kepada pimpinan lembaga, institusi pemerintahan, institusi swasta, para kepala daerah, dan pihak terkait lainnya untuk ikut melakukan sosialisasi tema dan logo menyambut HUT RI tersebut.
Untuk menyemarakan HUT Kemerdekaan ke-74 RI, pihaknya meminta masyarakat untuk mengibarkan Bendera Merah Putih serentak di lingkungan instansi mulai 1 Agustus hingga 31 Agustus 2019.
Selain itu, pemerintah mengimbau partisipasi masyarakat dengan memasang umbul-umbul, dekorasi, dan hiasan lainnya yang sejalan dengan tema HUT Kemerdekaan ke-74 RI.

Sumber: Kabar24.com
Share:

Istikmal, Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1440 H Rabu 5 Juni

Jakarta, NU Online
Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan 1 Syawal 1440 Hijriah jatuh pada Rabu, 5 Juni 2019. Ketetapan ini disampaikan selepas menggelar sidang itsbat di Jakarta yang digelar pada Senin (3/6) petang.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang memimpin sidang itsbat menjelaskan, posisi hilal yang berada di bawah ufuk dilihat dari seluruh penjuru tanah air, dengan tinggi minus 1 derajat 26 menit sampai dengan minus 0 derajat 6 menit.

Tim falakiyah Kemenag di 105 titik seluruh wilayah tanah air dari Aceh hingga Papua, bekerja di bawah, juga melaporkan bahwa tidak satu pun di antara mereka yang berhasil melihat hilal. 

Keputusan ini juga selaras dengan prediksi data hisab Lembaga Falakiyah PBNU untuk markaz Jakarta yang mengungkapkan, Senin hari ini konjungsi atau ijtima' terjadi pada pukul 17:01:42 WIB. Tinggi hilal minus 0 derajat 14 menit 57 detik. Secara teoritis, hilal dalam posisi di bawah ufuk semacam ini sangat sukar terlihat.

Dengan demikian, bulan Ramadhan disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal), dan umat Islam masih harus berpuasa satu hari lagi, Selasa (4/6) esok.

Sidang itsbat diikuti para utusan ormas Islam, pimpinan pondok pesantren, ahli astronomi, delegasi negara-negara sahabat, dan anggota DPR RI. 

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga mengumumkan, awal bulan Syawal 1440 Hijriah jatuh pada Rabu, 5 Juni 2019. Ikhbar ini berdasarkan hasil obvervasi para tim rukyat NU di berbagai daerah pada Senin (3/6) petang, yang tak berhasil melihat hilal.

Ikhbar PBNU tertuang dalam surat bernomor 3547/C.I.34/06/2019 yang ditandatangani Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Katib ‘Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini.

PBNU juga mengimbau umat Islam, khususnya warga NU, untuk menyempurnakan puasa yang tinggal satu hari lagi, dan merayakan hari raya Idul Fitri pada tanggal 5 Juni 2019. “Selamat merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1440 H, dengan penuh suka cita. Mohon maaf lahir dan batin,” tulis surat tersebut. (Mahbib)
Share:

Konferensi Al-Qur’an JQHNU Hasilkan ‘Watsiqah Jakarta’, Ini Isi Rekomendasinya

Jakarta, NU Online
Jam’iyatul Qurra’ wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) menggelar Konferensi Al-Qur’an di Jakarta pada 20-21 Mei 2019. Tidak kurang dari 200 ulama Al-Qur’an, para hafizh/hafizah, qari'/qariah, pimpinan pondok pesantren dan peneliti Al-Qur’an seluruh Indonesia yang tergabung dalam JQHNU mengikuti seminar Al-Qur’an dan sima'an akbar

Setelah melakukan diskusi selama dua hari di Jakarta, tanggal 20-21 Mei 2019, mendengarkan sambutan Menteri Agama, memperhatikan pemikiran dari narasumber, yaitu KH Mukhlis M. Hanafi, KH Ahsin Sakho Muhammad, KH Musta’in Syafi’ie, KH Sahiron Syamsuddin dan Agus Purwanto, maka peserta Konferensi Al-Qur’an Jam’iyatul Qurra’ wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) menetapkan 9 rekomendasi yang dituangkan dalam Watsîqah Jakarta sebagai berikut:

1. Al-Qur’an adalah Kalamullah yang suci dan agung yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai petunjuk bagi kehidupan umat. Karena itu, ia harus terus diletakkan pada posisi yang tepat, dijaga kesuciannya, tidak dikotori dan dinodai dengan cara apapun, termasuk politisasi Al-Qur’an untuk kepentingan politik praktis.

2. Semangat membaca dan menghafal Al-Qur’an harus diimbangi dengan semangat mempelajari dan memahami makna-maknanya secara benar, komprehensif, kontekstual dan proporsional sesuai dengan Ulumul Qur’an dan syarat-syarat yang disepakati mayoritas ulama, serta diimplementasikan dan didakwahkan secara arif bijaksana untuk mengejawantahkan misi Al-Qur’an yang rahmatan lil alamin.

3. Mendorong kepada pemerintah, ulama dan pakar Al-Qur’an yang memiliki otoritas di bidangnya agar dapat memberikan pendampingan, supervisi dan lisensi terhadap acara-acara ke-Qur’an-an yang di-publish di televisi, youtube dan media sosial lainnya. Sehingga hak-hak masyarakat untuk belajar dan memahami Al-Qur’an secara baik dan benar dapat terjamin dan terjaga.

4. Sektarianisme, rasisme, ekstrimisme, diskriminasi, dan memaksakan kehendak dengan cara dan dalam bentuk apapun bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an. Sikap seperti itu dapat merusak harmoni kehidupan warga negara dan mengganggu keutuhan bangsa. Karenanya, sikap seperti itu harus diluruskan bersama-sama sebagai wujud amar ma’ruf nahi munkar, dengan cara-cara yang benar, santun, dan bijak.

5. Perlu dibuat desain kurikulum dan pembelajaran Al-Qur’an yang moderat, komprehensif dan anti-kekerasan bagi masyarakat umum, pelajar, dan mahasiswa. Hal ini diperlukan untuk melindungi generasi muda sebagai penerus perjuangan agama dan bangsa dari pemikiran ekstrim dan eksklusif yang bertentangan dengan ajaran agama.
6. Perlu intensifikasi pelatihan, riset, seminar dan konferensi Al-Qur’an untuk generasi milenial dengan mengetengahkan sisi-sisi keindahan, keagungan dan keragaman pendapat ulama dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an, agar mereka memiliki cakrawala pengetahuan, keterbukaan pemikiran dan kearifan perilaku.

7. Perlu optimaslisasi penggunaan teknologi informasi dan media sosial untuk mendiseminasi dan memassifkan materi-materi ke-qur’an-an seperti ilmu nagham, qira’at, tafsir dan tahfizh, sehingga masyarakat –khususnya generasi milenial-dapat mengakses dan belajar Al-Qur’an dengan mudah dan terpercaya.

8. Para hafizh/hafizhah, qari’/qari’ah, dan ahli Al-Qur’an telah berkontribusi besar dalam mendidik dan mencerdaskan umat Islam Indonesia. Karenanya mereka perlu diberikan perhatian khusus oleh pemerintah agar dapat secara tenang dan istiqamah mengemban tugas dakwah dan pendidikan Al-Qur’an di tengah masyarakat, dan hidup bermartabat.

9. Lembaga-lembaga  ke-Quran-an  seperti  pesantren  Al-Qur’an,  rumah  tahfizh, TPQ/TKQ dan halaqah-halaqah Al-Qur’an adalah kawah candradimuka bagi pendidikan dan pembelajaran Al-Qur’an di Indonesia. Maka pemerintah perlu memberikan afirmasi agar ia terus eksis dan berkembang dengan baik dan maksimal, serta memfasilitasi terbukanya akses terjalinnya kerjasama antara lembaga kealqur’anan dengan Kementerian atau Lembaga Non-Kementerian yang secara langsung atau tidak langsung memiliki keterkaitan dengan pengembangan dakwah dan pengajaran Al-Qur’an di Tanah Air.
Watsiqah Jakarta atau semacam piagam ini ditandangani di Jakarta pada 21 Mei 2019 oleh Ketum JQHNU KH Saifullah Maksum, Sekum JQHNU KH Muh. Ulinnuha, Rais Majelis Ilmi KH Ahsin Sakho Muhammad, dan Katib JQHNU KH Ahmad Dahuri. (Fathoni)
Share:

Terkait Situasi Terkini, PBNU Imbau Seluruh Komponen Bangsa Rajut Kembali Persatuan

Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas menghimbau kepada umat Islam untuk menjadikan Ramadhan sebagai bulan suci yang tidak boleh dinodai dengan tindakan-tindakan anarkis dan yang dapat mengganggu ketenteraman dan ketenangan orang lain untuk bekerja dan beribadah.

“Di sepertiga terakhir bulan Ramadhan umat Islam dihimbau agar memperbanyak dzikir, tafakkur, dan doa untuk keselamatan bangsa dan negara,” kata Robikim dalam rilis yang diterima NU Online, Kamis (23/5).

Dia mengajak kepada semua pihak untuk tunduk kepada mekanisme konstitusional jika tidak puas dengan hasil pemilu. Di samping itu, ia juga menyerukan kepada seluruh komponen bangsa untuk merajut kembali persatuan dan kesatuan bangsa. 

“Dan menghindari sikap yang dapat memperpanjang polarisasi (perkubuhan) dan segregasi (perpecahan),” lanjutnya.

Kepada aparat kepolisian dan aparat negara lainnya, Robikin menghimbau agar bertindak dalam koridor hukum dan perundang-undangan dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Menurutnya, aparat kepolisian perlu bertindak tegas terhadap para perusuh dan pembuat onar demi menjaga ketenteraman dan ketenangan bulan Ramadhan.

Terakhir, Robikin mendorong agar diselenggarakan halal bihalal nasional antar seluruh komponen bangsa untuk merajut kembali persaudaran yang sempat koyak.

“Mendorong penyelenggaraan halal bihalal nasional guna merajut kembali tali ukhuwwah Islâmiyahukhuwwah wathaniyah, dan ukhuwwah insâniyah,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, terjadi beberapa aksi demonstrasi di beberap titik di Jakarta setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan rekapitulasi hasil penghitungan pemilihan presiden (pilpres) 2019 pada Senin, 20 Mei dini hari lalu. Puncak aksi terjadi pada 22 Mei. Hingga berita ini diturunkan, ada 8 orang meninggal, 730 korban yang tengah ditangani medis, serta 257 orang perusuh dan provokator yang diamankan polisi akibat aksi demonstrasi tersebut. (Red: Muchlishon)

Share:

Ustadz Arifin Ilham Wafat, PBNU Berbelasungkawa



Jakarta, NU Online
Innalillahi wainna ilaihi rajiun...

Pengasuh Pondok Pesantren Azzikra, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ustadz Muhammad Arifin Ilham meninggal dunia, Selasa (22/5) malam. Ustadz Arifin Ilham meninggal dunia pukul 23.20 waktu Penang, Malaysia.

Sekjen PBNU HA Helmy Faishal Zaini menyatakan PBNU turut merasakan duka yang mendalam dengan wafatnya Ustadz Arifin Ilham. Menurut Sekjen Helmy, almarhum adalah sosok pendakwah yang sering mengajarkan wirid-wirid dzikir sebagai salah satu amalan yang diijazahkan kepada jamaah.

"Saya merasakan kehilangan yang mendalam. Saya melihat dari Ustadz Arifin Ilham, amaliahnya yang sama dengan NU selama ini dengan bershalawat, berdzikir," kata Sekjen Helmy, Rabu (23/5) dinihari.

Sekjen Helmy menceritakan selain dari ceramah-ceramah Ustadz Arifin Ilham di televisi, dirinya juga sempat bertemu langsung dengan almarhum.

"Saya mengenal Ustadz Arifin Ilham waktu Gus Ali Masyhuri (KH Agoes Ali Masyhuri Sidoarjo) saat pertandingan badminton," ungkapnya.

"Semoga Ustadz Arifin Ilham khusnul khatimah," doa Sekjen Helmy.

Ustadz Arifin Ilham diketahui meningggal dunia dalam masa perawatan akibat sakit kanker kelenjar getah bening. Ustadz Arifin Ilham lahir 8 Juni 1969 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Ketua Yayasan Azzikra, Khotib Kholil, mengatakan Ustadz Arifin Ilham selalu tampak gembira meski menderita kanker kelenjar getah bening. Kerabat sang ustadz itu mengatakan Ustadz Arifin tidak pernah menampakkan sakitnya.

"Tak pernah menampakkan sakitnya. Jadi selalu gembira, terutama kepada umat. Beliau selalu menyampaikan adab dalam beribadah dan mengamalkan surat-surat rutin seperti biasa," kata Khotib Kholil di kediaman almarhum, Majelis Azzikra Sentul, dikutip dari detik.com.

Perlu diketahui Pesantren Azzikra yang diasuh Ustadz Arifin Ilham, merupakan salah satu pesantren yang mendukung diusulkannya Hari Santri Nasional yang juga juga diperjuangkan NU. Selain itu, Azzikra juga tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) di mana Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj saat ini menjadi ketuanya. (Kendi Setiawan)

Share:

Hari Guru Nasional

Selamat Hari Guru Nasional 2025, “Merawat Semesta dengan Cinta.”

Recent Posts