Madrasah Hebat Bermartabat

Contoh Surat Permohonan Izin Sosialisasi PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru)

Tidak terasa Tahun Pelajaran 2017/2018 akan segera berakhir dan akan berganti tahun pelajaran yang baru, yakni Tahun Pelajaran 2018/2019.

Menjelang tahun pelajaran, di manapun pasti panitia PPDB sibuk melaksanakan sosialisasi PPDB ke sekolah/madrasah yang berada di jenjang yang lebih rendah. Kegiatan ini penting untuk dilaksanakan karena kelas terakhir di sekolah/madrasah akan segera lulus dan harus diganti oleh kelas paling bawah.

Sebagai langkah awal sosialisi ke sekolah/madrasah, sudah selayaknya dan sebaiknya, bahkan wajib untuk "kulo nuwun" atau meminta izin untuk melaksanakan sosialisi PPDB kepada kepala sekolah/madrasah di sekolah yang dituju.

Selain melalui uacapan (secara lisan), paniti PPDB juga sebaiknya melayangkan  permohonan izin secara tertulis melalui surat. Seperti apa formatnya?

Berkut ini contoh surat izin sosialasi Penerimaan Peserta Didik Baru dalam bentuk file word, sehingga mudah diedit sesuai dengan selera kebutuhan siapa saja yang berkenan mendownloadnya.

Semoga bermanfaat.

download di sini
Share:

Buku Ke-NUan Kelas 10, 11, 12 SMA/MA/SMK Kurikulum 2013

Buku ini merupakan salah satu referensi wajib bagi guru dan siswa di lingkungan sekolah/madrash yang bernaung di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun demikian tidak menutup kemungkinan buku ini juga bisa digunakan di luar Provinsi DIY.


Buku ini berisi tentang nilai keyakinan dan ajaran aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah An-Nahdliyyah (Aswaja An-Nahdliyah) beserta praktik amaliyah ibadah yang dimiliki oleh jamaah Nahdlatul Ulama. Buku ini merupakan rangkuman dari aneka pemikiran para ulama salaf dan kholaf dalam madzhab Ahlussunnah Wal Jama’ah AnNahdliyyah yang tertulis di berbagai kitab klasik maupun kitab masa kini. Untuk itu, diharapkan dengan hadirnya buku ini diharapkan dapat memberikan arah dan panduan yang jelas bagi proses pembelajaran di sekolah-sekolah Ma’arif di lingkungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Daerah Istimewa Yogyakarta

Silakan 
Download Buku Ke-NUA-an/Aswaja Kelas 10 di sini
Download Buku Ke-NUA-an/Aswaja Kelas 11 di sini
Download Buku Ke-NUA-an/Aswaja Kelas 12 di sini





Share:

Arti Lambang Forkamas Cilacap

Logo/Lambang Forkamas Cilacap 
Berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Forkamas Kabupaten Cilacap, Bab I pasal 2 tentang Lambang Forkamas, arti lambang forkamas adalah sebagai berikut:

1. Bentuk bulat dengan isi:
  • Dua garis tepi lambang/logo
  • Tulisan Frokamas = Forum Kepala Madrasah Aliyah Swasta diapit oleh dua rantai.
  • Satu bintang di atas tiga pena terletak di tengah-tengah lambang/logo.

2. Warna Lambang/Logo
  • Warna dasar kuning emas
  • Dua rantai berwarna merah
  • Pena dengan warna putih
  • Bintang berwarna hitam
3. Arti Lambang Logo

  • Dua garis tepi berbentuk bulat melambangkan kekokohan organisasi Forkamas.
  • Tulisan Frokamas = Forum Kepala Madrasah Aliyah Swasta diapit oleh dua rantai melambangkan identitas/nama organisasi Frokamas.

  • Warna dasar kuning emas melambangkan cahaya yang mampu melambangkan cita-cita luhur.
  • Dua rantai berwarna merah melambangkan kekokohan organisasi yang dominan, aktif dalam mewujudkan keja.
  • Bintang warna hitam melambangkan cita-cita luhur yang diinginkan Forkamas.
  • Tiga pena menggambarkan Iman, Islam dan Ihsan.


Share:

Buku Guru dan Buku Siswa SMP/MTs Kelas 7 Kurtilas Revisi 2017 Mapel Umum

Buku Guru Kurikulum 2013 Revisi 2017 untuk Kelas VII SMP/MTs
  1. Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas VII Revisi 2017; DOWNLOAD
  2. Buku Guru Bahasa Inggris Kelas VII Revisi 2017; DOWNLOAD
  3. Buku Guru IPA Kelas VII Revisi 2017; DOWNLOAD
  4. Buku Guru IPS Kelas VII Revisi 2017; DOWNLOAD
  5. Buku Guru Matematika Kelas VII Revisi 2017; DOWNLOAD
  6. Buku Guru PAI Kelas VII Revisi 2017; DOWNLOAD
  7. Buku Guru PJOK Kelas VII Revisi 2017; DOWNLOAD
  8. Buku Guru PPKn Kelas VII Revisi 2017; DOWNLOAD
  9. Buku Guru Prakarya Kelas VII Revisi 2017; DOWNLOAD
  10. Buku Guru Seni Budaya Kelas VII Revisi 2017; DOWNLOAD
Share:

Buku Guru dan Buku Siswa Kelas 8 SMP/MTS Kurtilas Mapel Umum

Buku Guru Kurikulum 2013 Revisi 2017 untuk Kelas VIII SMP/MTs
  1. Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas VIII Revisi 2017; DOWNLOAD
  2. Buku Guru Bahasa Inggris Kelas VIII Revisi 2017; DOWNLOAD
  3. Buku Guru IPA Kelas VIII Revisi 2017; DOWNLOAD
  4. Buku Guru IPS Kelas VIII Revisi 2017; DOWNLOAD
  5. Buku Guru Matematika Kelas VIII Revisi 2017; DOWNLOAD
  6. Buku Guru PAI Kelas VIII Revisi 2017; DOWNLOAD
  7. Buku Guru PJOK Kelas VIII Revisi 2017; DOWNLOAD
  8. Buku Guru PPKn Kelas VIII Revisi 2017; DOWNLOAD
  9. Buku Guru Prakarya Kelas VIII Revisi 2017; DOWNLOAD
  10. Buku Guru Seni Budaya Kelas VIII Revisi 2017; DOWNLOAD

Buku Siswa Kurikulum 2013 Revisi 2017 untuk Kelas VIII SMP/MTs

  1. Buku Siswa Bahasa Indonesia Kelas VIII Revisi 2017; DOWNLOAD
  2. Buku Siswa Bahasa Inggris Kelas VIII Revisi 2017; DOWNLOAD
  3. Buku Siswa IPA Kelas VIII Revisi 2017 Semester 1; DOWNLOAD
  4. Buku Siswa IPA Kelas VIII Revisi 2017 Semester 2; DOWNLOAD
  5. Buku Siswa IPS Kelas VIII Revisi 2017; DOWNLOAD
  6. Buku Siswa Matematika Kelas VIII Revisi 2017 Semester 1; DOWNLOAD
  7. Buku Siswa Matematika Kelas VIII Revisi 2017 Semester 2; DOWNLOAD
  8. Buku Siswa PAI Kelas VIII Revisi 2017; DOWNLOAD
  9. Buku Siswa PJOK Kelas VIII Revisi 2017; DOWNLOAD
  10. Buku Siswa PPKn Kelas VIII Revisi 2017; DOWNLOAD
  11. Buku Siswa Prakarya Kelas VIII Revisi 2017; DOWNLOAD
  12. Buku Siswa Seni Budaya Kelas VIII Revisi 2017; DOWNLOAD

Share:

Juknis PPDB Madrasah Tahun 2018

Pendis Kementerian Agama Republik Indonesia telah menerbitkan Juknis Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun 2018 yang telah disahkan melalui Keputusan Dirjen Pendis No. 481 Tahun 2018 tanggal 24 Februari 2018 tentang Petunjuk Teknis Penerimaan Peserta Didik Baru Raudhatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan Madrasah Aliyah Kejuruan.

Juknis bisa didownload melalui link di bawah ini:



Share:

Apa Forkamas Cilacap?

Forkamas Cilacap adalah kependekan dari Forum Kepala Madrasah Aliyah Swasta se-Wilayah Cilacap. Forkamas didirikan di Majenang Cilacap pada hari Senin 8 Agustus 2017 melalui rapat Kepala MAN Majenang (sekarang Man 2 Cilacap), seluruh kepala MAS dan Pengawas Madrasah.

Forkamas berkedudukan di Kabupaten Cilacap yaitu berada di setiap KKM atau wilayah/kecamatan/tempat sesuai dengan kebutuhan.


Banyak kegiatan yang sudah dilakukan oleh frokamas, antara lain adalah In House Training (IHT) Implementasi Kurikulum 2013 Tahun Pelajaran 2017/2018 pada Ahad 8 Desember 2017 bertempat di MAS Al-Ittihad Sidareja. Kegiatan ini menghadirkan para narasumber dari MAN Majenang (Sekarang MAN 2 Cilacap).
Share:

Kisi-kisi Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional PAI dan Bahasa Arab Tahun Pelajaran 2017/2018

Direktur Jenderal Pendidikan Islam telah menerbitkan Keputusan Dirjen Pendis Nomor 5527 Tahun 2017 tentang Kisi-kisi Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional PAI dan Bahasa Arab Tahun Pelajaran 2017/2018

Berikut Kisi-kisinya
Share:

Pelepasan MA Ma'arif Nurul Huda Patimuan Siswa Tahun 2016


Share:

Tour Religi MA Ma'arif Nurul Huda Patimuan Tahun 2013

Tour Religi ke Wali Tanah Jawa dan Borobudur dilaksanakan tanggal 27 Desember 2013. Tampak dalam gambar, peserta baru saja turun dari mobil di lokasi Gunung Muria Kudus dan siap naik menuju makam Sunan Muria.


Share:

Karnaval 2016

Regu Karnaval MA Ma'arif Nurul Huda Patimuan, 18 Agustus 2016.

Share:

Pemilihan Ketua OSIS 2016/2017

Pemilihan Ketua OSIS MA Maarif Nurulhuda Patimuan Rabu, 30 Agustus 2016

Share:

Sosialisasi Kesehatan

Sosialisasi Kesehatan Reproduksi Remaja bersama UPT Puskesmas Patimuan, Selasa, 11 Oktober 2016, pukul 09.00 di MA Maarif Nurul Huda Patimuan MA Maarif Nurulhuda Patimuan

Share:

Pelantikan Bantara 2016


Share:

Ekstrakurikurikuler Hadrah

Para siswa sedang latihan hadlrah.

Share:

KH Said Aqil Siradj MA

Tak kenal maka tak sayang. Barangkali peribahasa itu tepat untuk menggambarkan keadaan Indonesia akhir-akhir ini, dimana orang tak hanya tak kenal dan tak sayang, tetapi bahkan justru memfitnah, membenci dan memaki, dengan orang yang belum dikenalnya di media. Tak terkecuali, berbagai fitnah, berita palsu (hoax) dan makian yang dialamatkan kepada Prof Dr KH Said Aqil Siradj, MA, Ketua Umum Ormas Islam terbesar di dunia: Nahdlatul Ulama (NU).

Untuk itu, tulisan ini sedikit mengupas profil beliau, sosok santri yang dulu pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI) itu dinobatkan oleh Republika sebagai Tokoh Perubahan Tahun 2012 karena kontribusinya dan komitmennya dalam mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berperan aktif dalam perdamaian dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah. 

***
Ketika usia negara ini masih belia – delapan tahun – dan para pendiri bangsa baru beberapa tahun menyelesaikan “status kemerdekaan” Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949, di sebuah desa bernama Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, senyum bahagia KH Aqil Siroj mengembang. Tepat pada 3 Juli 1953, Pengasuh Pesantren Kempek itu dianugerahi seorang bayi laki-laki, yang kemudian diberi nama Said.

Said kecil kemudian tumbuh dalam tradisi dan kultur pesantren. Dengan ayahandanya sendiri, ia mempelajari ilmu-ilmu dasar keislaman. Kiai Aqil sendiri – Ayah Said – merupakan  putra Kiai Siroj, yang masih keturunan dari Kiai Muhammad Said Gedongan. Kiai Said Gedongan merupakan ulama yang menyebarkan Islam dengan mengajar santri di pesantren dan turut berjuang melawan penjajah Belanda. 

“Ayah saya hanya memiliki sepeda ontel, beli rokok pun kadang tak mampu. Dulu setelah ayah memanen kacang hijau, pergilah ia ke pasar Cirebon. Zaman dulu yang namanya mobil transportasi itu sangat jarang dan hanya ada pada jam-jam tertentu,” kenang Kiai Said dalam buku Meneguhkan Islam Nusantara; Biografi Pemikiran dan Kiprah Kebangsaan (Khalista: 2015).

Setelah merampungkan mengaji dengan ayahanda maupun ulama di sekitar Cirebon, dan umur dirasa sudah cukup, Said remaja kemudian belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang didirikan oleh KH Abdul Karim (Mbah Manaf). Di Lirboyo, ia belajar dengan para ustadz dan kiai yang merawat santri, seperti KH Mahrus Ali, KH Marzuki Dahlan, dan juga Kiai Muzajjad Nganjuk.

Setelah selesai di tingkatan Aliyah, ia melanjutkan kuliah di Universitas Tribakti yang lokasinya masih dekat dengan Pesantren Lirboyo. Namun kemudian ia pindah menuju Kota Mataram, menuju Ngayogyokarta Hadiningrat. Di Yogya, Said belajar di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak dibawah bimbingan KH Ali Maksum (Rais Aam PBNU 1981-1984). Selain mengaji di pesantren Krapyak, ia juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, yang ketika itu KH Ali Maksum menjadi Guru Besar di kampus yang saat ini sudah bertransformasi menjadi UIN itu.

Ia merasa belum puas belajar di dalam negeri. Ditemani istrinya, Nurhayati, pada tahun 1980, ia pergi ke negeri kelahiran Nabi Muhammad SAW: Makkah Al-Mukarramah. Di sana ia belajar di Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qurra, dari sarjana hingga doktoral. Di Makkah, setelah putra-putranya lahir, Kang Said – panggilan akrabnya – harus mendapatkan tambahan dana untuk menopang keluarga. Beasiswa dari Pemerintah Saudi, meski besar, dirasa kurang untuk kebutuhan tersebut. Ia kemudian bekerja sampingan di toko karpet besar milik orang Saudi di sekitar tempat tinggalnya. Di toko ini, Kang Said bekerja membantu jual beli serta memikul karpet untuk dikirim kepada pembeli yang memesan.

Keluarga kecilnya di Tanah Hijaz juga sering berpindah-pindah untuk mencari kontrakan yang murah. “Pada waktu itu, bapak kuliah dan sambil bekerja. Kami mencari rumah yang murah untuk menghemat pengeluaran dan mencukupkan beasiswa yang diterima Bapak,” ungkap Muhammad Said, putra sulung Kang Said.

Dengan keteguhannya hidup ditengah panasnya cuaca Makkah di siang hari dan dinginnya malam hari, serta kerasnya hidup di mantan “tanah Jahiliyyah” ini, ia menyelesaikan karya tesisnya di bidang perbandingan agama: mengupas tentang kitab Perjanjian Lama dan Surat-Surat Sri Paus Paulus. Kemudian, setelah 14 tahun hidup di Makkah, ia berhasil menyelesaikan studi S-3 pada tahun 1994, dengan judul: Shilatullah bil-Kauni fit-Tashawwuf al-Falsafi (Relasi Allah SWT dan Alam: Perspektif Tasawuf). Pria yang terlahir di pelosok Jawa Barat itu mempertahankan disertasinya – diantara para intelektual dari berbagai dunia – dengan predikat Cumlaude.

Ketika bermukim di Makkah, ia juga menjalin persahabatan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “Gus Dur sering berkunjung ke kediaman kami. Meski pada waktu itu rumah kami sangat sempit, akan tetapi Gus Dur menyempatkan untuk menginap di rumah kami. Ketika datang, Gus Dur berdiskusi sampai malam hingga pagi dengan Bapak,” ungkap Muhammad Said bin Said Aqil. Selain itu, Kang Said juga sering diajak Gus Dur untuk sowan ke kediaman ulama terkemuka di Arab, salah satunya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki. 

Setelah Kang Said mendapatkan gelar doktor pada 1994, ia kembali ke tanah airnya: Indonesia. Kemudian Gus Dur mengajaknya aktif di NU dengan memasukkannya sebagai Wakil Katib ‘Aam PBNU dari Muktamar ke-29 di Cipasung. Ketika itu, Gus Dur “mempromosikan” Kang Said dengan kekaguman: “Dia doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan dengan disertasi lebih dari 1000 referensi,” puji Gus Dur. Belakangan, Kang Said juga banyak memuji Gus Dur. “Kelebihan Gus Dur selain cakap dan cerdas adalah berani,” ujarnya, dalam Simposium Nasional Kristalisasi Pemikiran Gus Dur, 21 November 2011 silam.

Setelah lama akrab dengan Gus Dur, banyak kiai yang menganggap Kang Said mewarisi pemikiran Gus Dur. Salah satunya disampaikan oleh KH Nawawi Abdul Jalil, Pengasuh Pesantren Sidogiri, Pasuruan, ketika kunjungannya di kantor PBNU pada 25 Juli 2011. Kunjungan waktu itu, merupakan hal yang spesial karena pertama kalinya kiai khos itu berkunjung ke PBNU – di dampingi KH An’im Falahuddin Mahrus Lirboyo. Kiai Nawawi menganggap bahwa Kang Said mirip dengan Gus Dur, bahkan dalam bidang ke-nyelenehan-nya. 

“Nyelenehnya pun juga sama,” ungkap Kiai Nawawi, seperti dikutip NU Online. “Terus berjuang di NU tidak ada ruginya. Teruslah berjuang memimpin, Allah akan selalu meridloi,” tegas Kiai Nawawi kepada orang yang diramalkan Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU di usia lebih dari 55 tahun itu.

Menjaga NKRI dan mengawal perdamaian dunia

Pada masa menjelang kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1936, para ulama NU berkumpul di Banjarmasin untuk mencari format ideal negara Indonesia ketika sudah merdeka nantinya. Pertemuan ulama itu menghasilkan keputusan yang revolusioner: (1) negara Darus Salam (negeri damai), bukan Darul Islam(Negara Islam); (2) Indonesia sebagai Negara Bangsa, bukan Negara Islam. Inilah yang kemudian menginspirasi Pancasila dan UUD 1945 yang dibahas dalam Sidang Konstituante – beberapa tahun kemudian. Jadi, jauh sebelum perdebatan sengit di PPKI atau BPUPKI tentang dasar negara dan hal lain sebagainya, ulama NU sudah terlabih dulu memikirkannya.

Pemikiran, pandangan dan manhaj ulama pendahulu tentang relasi negara dan agama (ad-dien wa daulah) itu, terus dijaga dan dikembangkan oleh NU dibawah kepemimpinan Kang Said. Dalam pidatonya ketika mendapat penganugerahan Tokoh Perubahan 2012 pada April 2013, Kiai Said menegaskan sikap NU yang tetap berkomitmen pada Pancasila dan UUD 1945. “Muktamar (ke-27 di Situbondo-pen) ini kan dilaksanakan di Pesantren Asembagus pimpinan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Jadi, pesantren memang luar biasa pengaruhnya bagi bangsa ini. Meski saya waktu itu belum menjadi pengurus PBNU,” kata Kiai Said, mengomentari Munas Alim Ulama NU 1983 dan Muktamar NU di Situbondo 1984 yang menurutnya paling fenomenal dan berdampak dalam pandangan kebangsaan.

Sampai kini, peran serta NU dalam hal kebangsaan begitu kentara kontribusinya, baik di level anak ranting sampai pengurus besar, di tengah berbagai rongrongan ideologi yang ingin menggerogoti Pancasila sebagai dasar negara. Hal ini tercermin dalam berbagai kegiatan dan program NU yang selalu mengarusutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks ini, Kiai Said sangat berpengaruh karena kebijakan PBNU selalu diikuti kepengurusan dibawahnya – termasuk organisasi sayapnya.

Salah satu peran yang cukup solutif, misalnya, ketika beliau menaklukkan Ahmad Mushadeq – orang yang mengaku sebagai Nabi di Jakarta dan menimbulkan kegaduhan nasional – lewat perdebatan panjang tentang hakikat kenabian (2007). “Alhamdulillah, doa saya diterima untuk bertemu ulama, tempat saya bermudzakarah (diskusi). Sekarang saya sadar kalau langkah saya selama ini salah,” aku Mushadeq. Disisi lain, Kang Said juga mengakui kehebatan Mushadeq. “Dia memang hebat. Paham dengan asbabun nuzul Al-Qur’an dan asbabul wurud Hadits. Hanya sedikit saja yang kurang pas, dia mengaku Nabi, itu saja,” jelas Kiai Said seperti yang terekam dalam Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah dan Uswah (Khalista & LTN NU Jatim, Cet II 2014).

Kiai yang mendapat gelar Profesor bidang Ilmu Tasawuf dari UIN Sunan Ampel Surabaya ini bersama pengurus NU juga membuka dialog melalui forum-forum Internasional, khususnya yang terkait isu-isu terorisme, konflik bersenjata dan rehabilitasi citra Islam di Barat yang buruk pasca serangan gedung WTC pada 11 September 2001. Ia juga kerapkali membuat acara dengan mengundang ulama-ulama dunia untuk bersama-sama membahas problematika Islam kontemporer dan masalah keumatan.

Pada Jumat, 7 Maret 2014, Duta Besar Amerika untuk Indonesia Robert O. Blake berkunjung ke kantor PBNU. Ia menginginkan NU terlibat dalam penyelesaian konflik di beberapa negara. “Kami berharap NU bisa membantu penyelesaian konflik di negara-negara dunia, khususnya di Syria dan Mesir. NU Kami nilai memiliki pengalaman membantu penyelesaian konflik, baik dalam maupun luar negeri,” kata Robert, seperti dilansir NU Online. “Sejak saya bertugas di Mesir dan India, saya sudah mendengar bagaimana peran NU untuk ikut menciptakan perdamaian dunia,” imbuhnya.

Raja Yordania Abdullah bin Al-Husain (Abdullah II) juga berkunjung ke PBNU. Ia ditemui Kiai Said, meminta dukungan NU dalam upaya penyelesaian konflik di Suriah. “Di Timur Tengah, tidak ada organisasi masyarakat yang bisa menjadi penengah, seperti di Indonesia. Jika ada konflik, bedil yang bicara,” ungkap Kiai Said.

Selain itu, menguapnya kasus SARA di Indonesia belakangan juga kembali marak muncul ke permukaan. “Munculnya kerusuhan bernuansa agama memang sangat sering kita temukan. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia harus terus belajar pentingnya toleransi dan kesadaran pluralitas. Sikap toleransi tersebut dibuktikan oleh Kaisar Ethiopia, Najashi (Negus) ketika para sahabat ditindas oleh orang-orang Quraisy di Mekkah dan memutuskan untuk hijrah ke Ethiopia demi meminta suaka politik kepadanya. Kaisar Negus yang dikenal sebagai penguasa beragama Nasrani itu berhasil melindungi para sahabat Nabi Muhammad SAW dari ancaman pembunuhan kafir Quraisy,” tulis Kiai Said dalam Dialog Tasawuf Kiai Said: Akidah, Tasawuf dan Relasi Antarumat Beragama (Khalista, LTN PBNU & SAS Foundation, Cet II, 2014).

Menghadapi potensi konflik horisontal itu, NU juga tetap mempertahankan gagasan Darus Salam, bukan Darul Islam, yang terinspirasi dari teladan Nabi Muhammad dalam Piagam Madinah. Dalam naskah tersebut, nabi membuat kesepakatan perdamaian, bahwa muslim pendatang (Muhajirin) dan muslim pribumi (Anshar) dan Yahudi kota Yastrib (Madinah) sesungguhnya memiliki misi yang sama, sesungguhnya satu umat. Yang menarik, menurut Kiai Said, Piagam Madinah – dokumen sepanjang 2,5 halaman itu – tidak  menyebutkan kata Islam. Kalimat penutup Piagam Madinah juga menyebutkan: tidak ada permusuhan kecuali terhadap yang dzalim dan melanggar hukum. “Ini berarti, Nabi Muhammad tidak memproklamirkan berdirinya negara Islam dan Arab, akan tetapi Negara Madinah,” terang Kiai Said.

Selain itu, menurutnya, faktor politis juga kerapkali mempengaruhi, bukan akidah atau keyakinan. “Seperti di masa Perang Salib, faktor politis dan ekonomis lebih banyak menyelimuti renggangnya keharmonisan kedua umat bersaudara tersebut di Indonesia. Dengan demikian, kekeruhan hubungan Islam-Kristen tidak jarang dilatarbelakangi nuansa politis yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama itu sendiri,” ungkapnya, dalam buku Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi bukan Aspirasi.

***
Ditengah agenda Ketua Umum PBNU yang sedemikian padat, Kiai Said dewasa ini diterpa berbagai fitnah, hujatan dan bahkan makian dari urusan yang remeh-temeh sampai yang menyangkut urusan negara. Ia dituduh agen Syiah, Liberal, antek Yahudi, pro Kristen, dan fitnah-fitnah lain oleh orang yang sempit dalam melihat agama dan konsep kemanusiaan dan kebangsaan. 

Meski demikian, ia toh manusia biasa – yang tak luput dari salah, dosa dan kekurangan – bukan seorang Nabi. Artinya, kritik dalam sikap memang wajar dialamatkan, tetapi tidak dengan hujatan, fitnah, dan berita palsu, melainkan dengan kata yang santun. Terkait hal ini, dalam suatu kesempatan ia memberi tanggapan kepada para haters-nya. Bukannya marah, Kiai Said justru menganggap para pembenci dan pemfitnah itu yang kasihan. Dan sebagai orang yang tahu seluk beluk dunia tasawuf, tentu dia sudah memaafkan, jauh sebelum mereka meminta maaf atas segenap kesalahan. Wallahu a’lam.

Biodata KH. Said Aqil Siroj
  • Tanggal Lahir : 3 Juli 1953 (umur 62)
  • Tempat Lahir : Cirebon, Jawa Barat
  • Kewarganegaraan
: Indonesia



  • Dikenal karena: Ketua Umum (Tanfidziyah) Pengurus Besar Nahdlatul 'Ulama Periode 2010-2015
  • Agama : Islam
  • Pasangan : Hj. Nur Hayati Abdul Qodir
  • Anak : Muhammad Said Aqil, Nisrin Said Aqil, Rihab Said Aqil, Aqil Said Aqil
  • Riwayat Pendidikan KH. Said Aqil Siroj

  • Untuk riwayat pendidikan dari profil dan biodata KH> Said Aqil Siroj, ada dua garis yang berbeda. Yaitu riwayat pendidikan non formal dan riwayat pendidikan formal. Hal ini karena memang sejak kecil KH. Said Aqil Siroj sudah menempuh berbagai pendidikan agama Islam, dan itu kebanyakan tentu saja merupakan sebuah lembaga non formal.

    Pendidikan Formal KH.Said Aqil Siroj
    • S1 Universitas King Abdul Aziz, jurusan Ushuluddin dan Dakwah, lulus 1982
    • S2 Universitas Umm al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, lulus 1987
    • S3 University of Umm al-Qura, jurusan Aqidah / Filsafat Islam, lulus 1994



    Pendidikan Non-Formal KH.Said Aqil Siroj
    • Madrasah Tarbiyatul Mubtadi’ien Kempek Cirebon
    • Hidayatul Mubtadi’en Pesantren Lirboyo Kediri (1965-1970)
    • Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (1972-1975) -
    • Pengalaman Organisasi[sunting | sunting sumber]
    • Sekertaris PMII Rayon Krapyak Yogyakarta (1972-1974)
    • Ketua Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) Mekkah (1983-1987)
    • Wakil Katib ‘aam PBNU (1994-1998)
    • Katib ‘aam PBNU (1998-1999)
    • Penasehat Gerakan Anti Diskriminasi Indonesia (Gandi) (1998)
    • Ketua Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa (FKKB) (1998-sekarang)
    • Penasehat Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam UI (1998-sekarang)
    • Wakil Ketua Tim Gabungan Pencari fakta (TGPF) Kerusuhan Mei 1998 (1998)
    • Ketua TGPF Kasus pembantaian Dukun Santet Banyuwangi (1998)
    • Penasehat PMKRI (1999-sekarang)
    • Ketua Panitia Muktamar NU XXX di Lirboyo Kediri (1999)
    • Anggota Kehormatan MATAKIN (1999-2002)
    • Rais Syuriah PBNU (1999-2004)
    • Ketua PBNU (2004-sekarang) -



    Kegiatan profesional KH. Said Aqil Siroj
    • Tim ahli bahasa indonesia dalam surat kabar harian Al-Nadwah Mekkah (1991)
    • Dosen di Institut Pendidikan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) (1995-1997)
    • Dosen pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1995-sekarang)
    • Wakil Direktur Universitas Islam Malang (Unisma) (1997-1999)
    • MKDU penasihat fakultas di Universitas Surabaya (Ubaya) (1998-sekarang)
    • Wakil ketua dari lima tim penyusun rancangan AD / ART PKB (1998)
    • Komisi member (1998-1999)
    • Dosen luar biasa Institut Islam Tribakti Lirboyo Kediri (1999 – sekarang)
    • Majelis Permusyawaratan Rakyat anggota fraksi yang mewakili NU (1999-2004)
    • Lulusan Unisma direktur (1999-2003)
    • Penasehat Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI) (2001-sekarang)
    • Dosen pascasarjana ST Ibrahim Maqdum Tuban (2003-sekarang)
    • UNU Dosen lulusan Universitas NU Solo (2003-sekarang)
    • Lulusan Unisma dosen (2003-sekarang)
    • Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (UI)
    • Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul 'Ulama (PBNU) 2010- sekarang
    Data diolah dari berbagai Sumber
    Share:

    POS USBN 2018

    Surat Edaran BSNP Nomor 0091/SDAR/BSNP/II/2018 tentang POS USBN Tahun Pelajaran 2017/2018

    download di sini

    Berikut POS USBN 2018.

    Download di sini
    Share:

    POS UAMBN 2018

    Berikut POS UAMBN 2018 sebagai panduan dalam pelaksanaan UAMBN Tahun 2018

    download di sini
    Share:

    POS UN 2018

    Inilah Prosedur Operasional Standar (POS) Penyelenggaraan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2017/2018

    Surat Edaran BSNP Nomor 0088/SDAR/BSNP/I/2018 tentang Revisi POS UN Tahun Pelajaran 2017/2018

    download di sini

    Surat Edaran BSNP Nomor 0094/SDAR/BSNP/III/2018 tentang Revisi Kedua POS UN Tahun Pelajaran 2017/2018

    Share:

    Kirab Budaya Dalam Rangka Hari Jadi Desa Cinyawang Ke-33

    Dalam rangka memeriahkan dan meryakan hari jadi Desa Cinyawang Ke-33, IPNU-IPPNU MA Ma'arif Nurul Huda Patimuan mengikuti Kirab Budaya pada Sabtu, 1 April 2017.

    Share:

    Penampilan Grup Madama Hudan Pada Hari Jadi Desa Cinyawang Ke-33

    Moment hari jadi desa Cinyawang yang ke 33 Bersama grup hadroh  Madama Hudan
    Minggu, 2 April 2017 Alumnus MA dan Siswa aktif MA  bertempat di pendopo balai desa Cinyawang Kecamatan Patimuan Kabupaten Cilacap.

    Share:

    Peringatan Isro Mi'roj Nabi Besar Muhammad SAW Tahun 2017

    Dalam rangka mengisi kegiatan keagaaman, IPNU-IPPNU Komisariat MA Ma'arif Nurul Huda Patimuan menggelar Peringatan Isro Mi'roj Nabi Besar Muhammad SAW pada bulan April 2017.

    Share:

    Pesantren Ramadlan 2017

    Mengisi kegiatan di bulan Ramadlan, MA Ma'arif Nurul Huda Patimuan menyelenggarakan Pesantren Ramadlan 2017.

    Share:

    PPDB ONLINE 2023

    PENDAFTARAN SISWA BARU KLIK>>> bit.ly/PPDB_MADAMA_2023

    Arsip Blog

    Recent Posts